Brécs' posts with tag: indonesia

|  | sambil nunggu final euro, jerman vs sepanyol... :p |

|  | kering rakyatku kering hatiku
indonesia 2008 indonesia yang rawan |
”Bagi masyarakat miskin yang sudah pakai gas, kenaikan harga BBM justru tidak punya dampak apa-apa,” ujar Kalla.
sumber: kompas online
oh yeaaaaaahhh??? dasar komprador! tsk!

|  | anak ini belum makan sejak pagi anak itu bergembira bersama mami
anak ini berleleran ingusnya yang asin anak itu berenang riang di air yang dingin
anak ini emaknya meratapi harga-harga anak itu emaknya membeli segala rupa
ps: -anak ini adalah hasil motret poster di adorama -anak itu adalah hasil, biasa, ngendid :p |

|  | Bapak sepuh ini adalah seorang abdi dalem yang bertugas sebagai juru kunci makam raja-raja Mataram di Imogiri. Beliau lahir pada tahun 1940 sebagai putra ketiga dari 4 bersaudara. Mengawali karir abdi dalem pada tahun 1966, selepas dari pengembaraannya di Jakarta. Beliau yang mogol sekolah pada semester kedua kelas 1 SMP ini sempat menjadi buruh dan bekerja serabutan.
Beliau gemar membaca majalah dan buku tentang kebudayaan Jawa. Meskipun telah berumur 68 tahun, ingatannya masih segar. Beliau bercerita dengan lancar sejarah kerajaan Mataram, mulai dari Babad Alas Mentaok, Penembahan Senapati-Ki Ageng Mangir, Bedhah Kartasura, Babad Giyanti, hingga ke Sultan Hamengkubuwana X dan Sunan Pakubuwana XIII. Hampir 2 jam terlewatkan tanpa terasa.
pic by niken |
dikutip dari Siaran Pers FPN via milis
Genderang perlawanan rakyat Indonesia, melawan rencana kenaikan harga BBM telah dibunyikan; mahasiswa, kaum miskin kota, kaum buruh, kaum tani dan perempuan di seluruh penjuru Indonesia, setiap hari melakukan aksi-aksi, dan terus membesar dan menyatu dari hari ke hari. Ini menunjukkan bahwa, tingkat kesejahteraan rakyat sudah dalam batas yang paling rendah, sehingga kenaikan harga BBM sebesar 30%, tidak akan lagi sanggup ditanggung oleh rakyat Indonesia. Argumentasi kuno yang disampaikan oleh Pemerintah, DPR, elit politik maupun intelektual tukang, semuanya seragam; kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$120/barel atau Rp1.116.000/barel atau Rp7018/liter akan menyebabkan kenaikan subsidi dalam negeri sebesar 21,4 trilyun rupiah, sementara negara tidak mempunyai anggaran, sehingga mau tidak mau, harga BBM dalam negeri harus dinaikkan sesuai dengan harga BBM internasional. Yang tidak pernah mereka katakan adalah kenapa harga BBM internasional cenderung naik? Dan kenapa harga BBM dalam negeri harus selalu mengikuti harga BBM internasional?
Sebab-sebab Kenaikan Harga BBM Internasional: - Sebab yang paling sering diberitakan adalah menurunnya pasokan dari negeri-negeri penghasil minyak, baik karena sedang ada pergolakan (seperti Irak ataupun Nigeria), menurunnya cadangan minyak di beberapa negara (misalnya Indonesia) maupun karena pemerintah dan rakyat di beberapa negara sedang melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak Internasional (seperti yang terjadi di Venezuela), sementara kebutuhan energi terus meningkat, baik di negara-negara imperialis (Amerika sebesar 20,59 juta barel per hari, Jepang sebesar 5,22 juta barel per hari, Rusia sebasar 3,10 juta barel per hari ) maupun di negara-negara yang sedang meningkat pertumbuhan ekonominya (seperti India sebesar 2,53 juta barel per hari maupun Cina sebesar 7,27 juta barel per hari), sekalipun tidak ada bukti kuat, yang menyatakan bahwa industri minyak yang ada di seluruh dunia, tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
- Penyebab yang sejati, dan ini yang jarang sekali diberitakan adalah spekulasi minyak di pasar saham internasional. Seperti juga halnya dengan saham-saham lainnya, maka perdangan saham minyak ini sangat rentan dengan spekulasi-spekulasi. Inilah yang sebenarnya menjadi pemicu utama kenaikan harga BBM internasional.
Sebab-Sebab Kenaikan Harga BBM Indonesia: - Harga BBM di Indonesia selalu naik mengikuti harga dunia karena mayoritas perusahaan minyak dan gas di Indonesia dikuasai oleh modal asing (pemilik industri minyak dunia) sehingga hasil dari minyak Indonesia, lebih diutamakan untuk dijual ke pasar internasional, dan jika pun harus dijual di Indonesia, maka harganya sama dengan harga BBM internasional itu (yang ditentukan oleh mereka juga).
- Yang dijual ke dalam negeri pun dibatasi hanya 15% dari total produksi, itupun pemerintah harus membeli dengan harga internasional selama 60 bulan, padahal seharusnya itu adalah kewajiban perusahaan-perusahaan asing itu, dan seharusnya juga bukan hanya 15%, tetapi lebih banyak, toh itu minyak diambil dari tanah kita.
- Indonesia tidak punya industri yang mengolah minyak mentah ke minyak siap pakai, sehingga BBM yang sehari-harinya kita gunakan itu, harus kita beli dari negara lain. Sederhananya, kita punya minyak mentah (tapi dikuasai asing, hanya sebagian kecil dikuasai PERTAMINA) dibawa keluar negeri untuk diolah, kemudian kita beli lagi dengan harga internasional, itu yang membuat harga BBM kita selalu mengikuti harga internasional.
- Yang membuat lebih mahal lagi, pembelian ataupun penjualan minyak itu melalui perusahaan-perusahaan broker, sehingga lebih mahal lagi ketika dijual ke rakyat (besarnya keuntungan untuk impor bisa mencapai 30 sen per barel, dengan total impor kita mencapai 113 juta barel per tahun, sehingga keuntungan broker adalah US$170 juta, atau 1,6 trilyun rupiah. Sedang untuk expor keuntungan broker US$2 per barel, dengan expor kita per hari adalah 490 ribu barel, sehingga uang yang masuk ke kantong broker adalah 9,3 milyar rupiah per hari atau 3,3 trilyun per tahun.
- Yang lebih Parah lagi, seluruh biaya perusahaan-perusahaan asing itu untuk mengambil minyak mentah (mulai dari survey awal hingga produksi berjalan) sepenuhnya (alias 100%, bahkan sekarang mencapai 120% karena ada tambahan 20% bagi perusahaan-perusahaan yang mengembangkan sumur-sumur minyak yang telah diolah sebelumnya) dibiayai oleh pemerintah (tentu dengan uang rakyat), yang biasa disebut cost recovery.
Kesimpulan: - Jadi sekalipun Bangsa Indonesia memiliki sedikitnya 329 blok/sumber migas dengan lahan seluas 95 juta hektar (separuh luas daratan Indonesia) dengan cadangan minyak yang diperkirakan mencapai 250 sampai dengan 300 miliar barel (setara Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia saat ini) dengan total produksi minyak mentah hari ini mencapai 1 juta barel per hari atau 159 juta liter per hari, tidak bermanfaat bagi Rakyat Indonesia.
- Dengan kesanggupan memproduksi BBM mentah sebesar 1 juta barel per hari, dengan harga saat ini US$120 per barel) maka nilainya mencapai 1,104 triliun per hari atau 397,44 triliun per tahun. Belum termasuk nilai penjualan gas yang juga luar biasa besarnya, mencapai 82,8 trilun per tahun. Jika semua industri minyak ini dikuasai oleh negara yang pro rakyat, maka tidak akan pernah ada defisit anggaran negara karena kenaikan harga BBM dunia (defisit anggaran 21,4 trilyun jauh di bawah keuntungan 397,44 trilyun dari minyak ditambah 82,8 trilyun dari gas).
- Belum lagi negara tidak perlu mengeluarkan cost recovery yang sangat besar. Sampai pertengahan tahun 2007 saja, pemerintah sudah mengeluarkan dana 93,9 trilyun rupiah.
- Keuntungan untuk rakyat akan bertambah jika minyak mentah Indonesia bisa diolah sendiri, tanpa harus membawa keluar negeri untuk diolah dan kemudian dibeli Indonesia lagi. Bayangkan saja, untuk broker saja (expor di tambah impor), terbuang uang 4,9 trilyun rupiah per tahun.
- Sekarang bandingkan dengan dana BLT yang hanya 14 trilyun selama 6 bulan untuk jutaan orang, yang dalam prakteknya 100 ribu per bulan, atau 3.000 per hari. Ganti ongkos angkutan seandainya harga BBM nanti naik, itu saja sudah tidak cukup.
FRONT PEMBEBASAN NASIONAL Sekber : Jl. Pori Raya No 06 Rt 009/Rw 010, Pisangan Timur, Jakarta Timur Telp/Fax : 021 4757881
| |