Brécs' posts with tag: my song
Link: http://www.ahmadinejad.ir/just to remind myself that i dedicate, and shall always dedicate, my struggle for the freedom of the people of my country.
MOVE!!! MOVE!!! MOVE ONWARD!!!
Quoted from one of his threads: Merry Christmas to everyone! 2006/12/21
In the Name of Almighty God, the Most Merciful, the Most Compassionate Merry Christmas to everyone!
My sincere congratulations to everyone for the Glorious and Auspicious Birthday of Divine Prophet - confirmed and authenticated by Gabriel, the angel of Divine revelation - the Obedient of Almighty God,
Jesus Christ, the Messiah (peace be upon Him)
He was a messenger of peace, devotion and love based upon monotheism and justice. He was raised in His Mother’s hand – Virgin Mary (peace be upon her) – that Almighty God stood her as impeccable and exalted her above the women of the world. The Mother and the Son that in the Divine Sight are reputable and prestigious. And they are positioned by God – The All Wise- at a sublime level.
There’s no doubt, after God – the Peerless Creator, the Beneficent, the Merciful – created the human beings, did not forsake them on their own. By sending and assigning the emissaries – prophets and messengers - along with the righteous individuals, and on top of that, by providing and utilizing the mankind with the gifts of intellect and human nature, they are guided in the right path – in order to achieve the complete perfection. The human generations – one after another – were not created to live in anguish, intimidation, skirmish, aggression, oppression, and misery. And without enjoying an amity and fraternity atmosphere - replete of love and justice – depart this life and leave it for the next generations.
The philosophy of human creation is: reaching the pinnacle of bliss, construction of immaculate life, efflorescence of all potentialities and talents, implementation of justice and devotion across the world amongst all human beings. This is one of the definite Divine promises that when the world is filled with oppression and enmity by the tyrants and oppressors, it will become full of justice by the reappearance of the promised Savior. All the Divine Prophets have clearly anounced this fact.
Unfortunately during the history, some egoistic and tyrant individuals have existed that stood against the convocations and the sermons of the Divine Prophets. And these tyrants and oppressors were the causation of all the adversities and the originator of all wars and animosities. 

|  | daripada suntuk ngeliat message board yang padet dengan reposting mp3, yang hari ini mencapai 450 bijis, and counting....
silakan diketawain lageeeeeeeee.... :)) huahahahahaha.... |
 | Cirebon | Oct 5, '07 1:35 PM for everyone |
Kutemukan di sebuah sudut dalam lorong ingatan yang samar malamnya terminal
Terminalnya malam ditemani 3 bungkus nasi jamblang sambal dan ikan asin
: kurasakan lagi demam itu tanpa ayah kali ini

|  | the name is also style, can be right can be also lying-an** :p
silakan komentar sepuasnyaaaaaaa, secara istri gw aja ketawa ngakak guling-guling tiap kali liyat poto-poto inih.... :))
btw, gaya mana yang paling keren? gaya mana yang bikin ilfil? :D
**namanya juga gaya, bisa beneran bisa juga bo'ongan
|
Pah, apa sih arti namaku yang panjang ini? tanyaku suatu hari.
Ini adalah hari ke 572 kami hidup di rumah extended family ibu, di kampung Baciro. Di situ hidup tiga orang nenekku dan 1 orang kakek. Jangan salah sangka, dua orang nenekku itu sudah lama hidup menjanda. Mereka tidak punya anak, dan menganggap ibuku sebagai anak kesayangan semata wayang. Selain karena ibuku manis lemah lembut, terutama karena ia sudah tinggal bersama mereka sejak kecil setelah ibunya, nenek kandungku, wafat karena tetanus. Satu pasang kakek nenek, adik kakek kandungku, yang tinggal di situ punya tiga anak, 2 wanita dan satu laki-laki yang 5 bulan lebih muda dariku.
Ditambah dengan 5 orang anggota keluargaku dan dua orang mahasiswa indekos, rumah tua yang gentingnya bocor di sana-sini itu kini harus menampung 14 jiwa. Sebuah rumah kuno peninggalan buyutku, terbuat dari papan kayu jati dipadu kayu sawo di bagian depan, dan anyaman bambu di tiga perempat bagian belakangnya. Luasnya sekitar 350m2 berlantai tanah. Umurnya mungkin sudah lebih dari 90 tahun saat itu, setua kampung di mana rumah itu berdiri di tepi sebuah gang sempitnya. Seperempat luas tanah kampung itu dulu milik buyutku, sebab kakek buyut adalah salah satu pionir yang membuka kampung itu.
Sebagai pensiunan pegawai PNKA, kakek kandungku beserta nenek sambung dan 5 anaknya tinggal di kompleks, 500 meter di seberang rel ke utara sana. Sesungguhnya, aku lebih ingin tinggal di sini, sebab rumahnya bertembok tebal ala bangunan kolonial dan aku merasa lebih terlindungi. Namun soalnya adalah dengan si nenek. Cerita-cerita tentang kekejaman nenek tiri itu kepada ibuku, telah sering aku dengar. Tapi perasaan kanak-kanakku lebih sering tak terbendung: aku lebih suka menghabiskan waktu di sini.
Betul-betul perubahan yang drastis. Beberapa tahun kemudian setelah aku di kelas 2 SMP, baru terasa kedahsyatannya. Ceritanya bermula dari suatu siang...
"Mas mau kan pindah ke rumah Pakdhe Darso ini?" tanya ibuku. "Mengapa aku harus pindah ke sini Bu?" [ ..... ] "Mas harus pindah ke sini agar bisa terus sekolah, karena Papah dan Ibu harus bekerja di tempat lain." "Ndak mau," kataku. "Mas mau sama Ibu." "Kalau Mas di sini, nanti Mas bisa belajar sama Mas Hari, supaya tambah pinter. Nanti Ibu dan Papah pasti datang menengok Mas setiap bulan..." "Mas mau di sini asalkan sama Ibu," air mataku jatuh, satu satu. "Mas cuma mau sama Ibu." Mata Ibu nampak kembeng-kembeng bening tapi tak meluruh... "Kalau Mas sama Ibu, Mas ndak bisa melanjutkan sekolah..." "Ndak apa-apa, Mas ndak usah sekolah. Mas mau jualan es saja bantuin Ibu," aku mengeras seiring air mata yang kian deras.
Aku benar-benar tak tahu apa rencana orang-orang dewasa itu terhadap diriku. Tapi waktu itu, bagiku Purworejo sungguh bukanlah kota yang menarik. Purworejo yang tanah tumpah darah papahku itu terasa asing, tak nampak gerak hidupnya. Sepi dan kelam, sekalipun aku tinggal dan dibesarkan di sebuah desa di tepian barat kota Jogja, yang hingga 6 bulan sebelumnya belum kenal listrik. Kami nonton televisi, satu-satunya yang ada di desa itu, beramai-ramai di rumah seorang teman yang punya accu sebagai sumber tenaganya. ::kalau Mohammad Ali sedang bertanding, wah, seluruh dunia rasanya mengkerut menjadi beberapa gerombol saja:: Sekalipun keluargaku termasuk kaya untuk ukuran desa, tapi televisi belum menjadi prioritas papahku. Begitu pula rumah sekaligus toko, yang berstatus kontrakan. Di saat teman-teman sebayaku masih membayangkan bahwa sebuah pesawat terbang harus berputar-putar seperti gasing sebelum akhirnya melayang ke angkasa, aku sudah dua kali menaikinya, Jakarta-Palembang pp. Dan rumahku masih kontrakan. ::ahh... Tuhan memang satiris sejati::
Aku bergaul dengan koran, komik, sepeda, sawah, jengkerik, bukit, sendang, dan para sopir dan kernet angkutan umum. Ya, toko kami persis di seberang terminal desa yang terletak di sisi selatan pasar. Dan penerangan rumah kami masih pakai stromking dan lampu minyak tanah yang ditiup mati oleh Ibu atau Papah, setelah aku dan kedua adikku melengkung di tempat tidur jam 7 malam. Mungkin kau tak percaya. Saat teman-teman sebayaku di TK Kudup Sari masih asyik jethungan, belajar menyanyi, menggambar benang ruwet, dan mèwèk, aku sudah membaca Kedaulatan Rakyat atau Kompas langganan papahku, dan menulis latin. Masuk SD, kalau Papah tidak sedang keluar kota, mulai jam 4 sore adalah waktu wajib bagiku untuk menghadapi kertas putih di dinding, yang bertuliskan daftar perkalian dari 1 x 1 hingga 10 x 10, sejam tak kurang. Di bawah kertas itu adalah papan tulis besar tempat Papah menuliskan soal-soal perkalian dan pembagian yang harus kuselesaikan secepatnya. Otherwise, rentetan dampratan bahkan, kalau aku ngèyèl, gagang kemocèng akan mendarat berat di pantatku.
Yang lucu, aku benar-benar tak suka ketika Ibu menyuruhku berangkat ke sekolah dengan bersepatu. Sungguh, aku merasa menjadi badut ketika itu, padahal selama 2 tahun di TK aku bersepatu, yang terbagus di desaku. Itu terjadi waktu aku di kelas 5. Tak ada satu pun kawan-kawan satu sekolah yang bersepatu, semua nyèkèr. Dan semua mata memandangku dengan penuh keajaiban. Tak tahan aku. Maka, umur sepatu itu cuma sehari bisa menginjak lantai kelasku. Besoknya, dan besok-besoknya lagi, aku harus beradu belas kasihan dengan Ibu agar bisa lolos dari kewajiban yang menyebalkan itu. Aku cuma ingin nampak tak berbeda dari mereka. Bila Ibu tak bisa kululuhkan hatinya, aku pakai sepatu tolol itu sampai ke pagar sekolah, dan kupakai lagi begitu bel pulang berbunyi. Tentu setelah menunggu semua kawan hilang dari pandangan.
Lima bulan lalu, di rumah kami nongol sebuah benda yang kami idam-idamkan: televisi! ::Horreee....:: Setiap sore, teman-teman yang sebaya berkumpul di rumahku dan dengan setia menunggu film-film kartun Hongkong Power, Scoobydoo, Captain Caveman. Setiap Minggu siang, yang kami tunggu kalau nggak film Rin Tin Tin atau Combat, ya Little House on the Prairie. Bagiku, yang paling ajaib adalah acara pukul 9 malam: Dunia Dalam Berita! Sebuah kotak yang mengagumkan. Aku tahu luasnya dunia darinya.
Akhirnya keputusan itupun tiba ketika rapor kenaikan kelas baru kemarin dibagikan, dan aku naik ke kelas enam dengan nilai tertinggi di seluruh desa. Tiba-tiba semua barang di rumahku mulai diangkuti, entah ke mana. Meja makan, kompor buatan mendiang Mbah Randim, ranjang, mesin cetak hand press, mainan machine gun besarku, sepatu roda. Juga lemari-lemari toko, yang barang dagangannya juga sudah entah di mana. Tak sampai seminggu kemudian, kami semua sudah berkumpul di Baciro, bersama para nenek dan kakek, dan para bulik dan om.
::serba membingungkan, tapi kepolosan kanak-kanakku lebih mendominasi::
::Ima, you are the inspiration, and the trigger! IOU for this::
Sebagai anak baru, aku ditimpa rasa minder yang luar biasa hebat. Meskipun aku juara di desa, tapi perlakuan anak-anak kota yang-percaya-dirinya-jauh-lebih-besar-dari-kapasitas-otak-mereka itu sangat menghambat pertumbuhan mentalku yang sedang dilanda trauma. Minggu pertamaku di kelas 6 SDN di kawasan Balapan itu, mereka mengolok-olok seorang monyet yang masuk kota. ::oh ya, entah dari mana, mereka tahu cerita legendaris tentang bersekolah nyèkèr, tanpa alas kaki itu:: Minggu kedua, mereka mengejek-ejek namaku yang seperti nama perempuan. Minggu ketiga, tas sekolahku dimasuki pepaya busuk. Belum pernah aku dileceh-lecehkan seperti ini.
Aku, anak keluarga terhormat!
Minggu ke-empat, seorang anak kelas B yang badannya jauh lebih besar, mencegatku di jalan sepulang sekolah dan menghantam wajahku tanpa alasan. Minggu ke-enam, aku kalahkan mereka di lomba kasti karena mereka tak pernah bisa ngembat bola kasti ke tubuhku. Bulan berikutnya, kulayani tantangan seorang kawan sekelas untuk berkelahi. Sebulan sesudahnya, aku kalahkan mereka semua dalam Cerdas Cermat antar siswa kelas 6. Semenjak saat itu, pandangan meremehkan itu mulai menghilang. Sebagian berubah menjadi iri, sebagian lagi menyublim menjadi pertemanan yang tulus, dan sebagian besar abstain. Bu Ersy walikelasku bahkan hadir melayat Papah sebelas tahun kemudian.
Setelah kelulusan, kubuktikan lagi bahwa aku pantas berada dalam jajaran elit intelektual kotaku. Tes masuk ke 3 buah SMP Negeri favorit berhasil kujebol dengan baik. Maka aku terdaftar sebagai murid di SMP paling favorit di kotaku, bersama [hanya!] 7 anak lainnya dari 108 anak lulusan SDku. Sialnya, kebanyakan murid-murid di SMP itu berasal dari keluarga berada. Ini kenyataan yang sangat memukul; memaksaku untuk berulang-ulang memutar memori tentang kejayaan keluargaku. Dan setiap hari aku harus bergulat dengan khayalan seandainya Papah tidak jatuh bangkrut, ketika setiap kali aku melihat anak-anak lain jajan dengan enteng, bersepatu-dan-tas bagus, bersepeda motor, atau diantar-jemput. Dan aku, aku harus puas dengan sepatu Warrior yang trepes dan bolong di jempol karena kupakai jalan pergi-pulang ke rumah setiap hari, kadang tanpa sangu sepeserpun.
Aku menjadi pemurung, ugal-ugalan, malas belajar. Di sekolah aku bergaul di lingkungan anak-anak yang hanya perlu menjentikkan jari ketika menginginkan sesuatu ::mirip denganku setahun lalu::, dan ketika kembali ke rumah aku harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang diametral.
Dari realitas yang saling bertabrakan inilah muncul benih-benih ketidakpercayaanku kepada Papah. Aku beranggapan bahwa ia tidak kompeten, sekalipun dia pernah tunjukkan bahwa nilai fisika dan matematikanya selama sekolah tak pernah di bawah 9! Dan sesungguhnya Papah memang cerdas. Ia pandai menggambar, pemikir, dan kreatif mengolah berbagai macam hal menjadi bermanfaat. Di kampungku, Papah jugalah yang suatu saat nanti menjadi pelopor diadakannya berbagai lomba dalam rangka tujuhbelasan secara lebih meriah, karena ia bisa menggerakkan gotong-royong penduduk kampung secara lebih luas. Karenanya, hadiah-hadiah yang tersedia pun sangat menarik. Rakyat menjadi antusias mengikuti rangkaian acara tujuhbelasan. Belum pernah peringatan tujuhbelasan di kampungku bisa semeriah itu. Namun dalam perannya sebagai seorang ayah, kecerdasan dan kreativitasnya seakan tak bekerja sebagaimana yang kudambakan.
***
Waktu itu, Papah, Ibu, dan adik bungsu sudah dua tahun tinggal di Tanjung Karang, menumpang di keluarga seorang eyang dari pihak Ibu. Ya, selang tiga bulan setelah kami pindah ke Baciro, Papah memboyong Ibu dan adik bungsu ke sana. Jadi ketika masuk SMP, aku pergi mendaftar sendiri, belajar sendiri, pergi tes sendiri. Sepeda miniku yang biru itu mengantarkan dan menjadi saksi keberhasilanku.
Aku tumbuh dalam sepi. Aku menyirami hari dengan senandung rindu.
Dalam kurun waktu itu, Papah bekerja sebagai buruh pemetik cengkih sampai ke Pulau Nias, jualan hasil bumi, menjadi sopir, hingga bisa memiliki sendiri sebuah mobil angkutan kota. ::nantinya di ujung masa, sebuah pengkhianatan lain telah menunggu::
Asap rokok mulai akrab dengan hari-hariku sejak kelas 2 SMP. Pergaulanku mulai tak keruan, suka membolos pada waktu pelajaran pilihan bebas saban Sabtu, dan berkelahi. Aku tumbuh menjadi jagoan bangsat kecil. Di awal semester kedua, kami berenam nglurug ke SMP Negeri lain di kawasan Terban. Itu terjadi setelah seorang guru kami diserempet oleh gerombolan sepeda motor mereka, di depan sekolah kami. SMP itu memang terkenal sebagai musuh bebuyutan sekolah kami. Walhasil, kami berenam nyaris tak naik kelas... Itupun kami sudah mati-matian mencoba meyakinkan guru BP, bahwa tindakan kami itu adalah untuk membela kehormatan sekolah. Kami nggak mau sekolah yang kami cintai ini dilecehkan!
Bersama rembulan, yang mengantarkan percik hujan asam menerobos sela genteng ke dasar jiwa.
Aku semakin terkenal sebagai si badung. Namun dalam seluruh catatan sejarah kenakalanku, ada satu hal yang secara sadar selalu, dan selalu berhasil, kuhindari: drugs! Dan aku betul-betul bangga karenanya. ***
Di kelas 2 ini, entah ada monyet cinta menyambar darimana, Shan, seorang gadis cantik kawan sekelas ::yang secara diam-diam juga kutaksir :p ::, sekonyong-konyong menyatakan rasa sukanya kepadaku melalui sepucuk surat yang dia titipkan kepada sahabatnya. Oh, di ceruk terdalam masa kerendahan-diriku, ada putri cantik yang naksir aku? ::Tuhan memang benar-benar aneh becandanya::
Shan, rambutmu yang panjang berombak seperti bercumbu dengan angin semilir aku selalu membayangkan dirimu adalah Farah Fawcet si gadis bionik pujaanku
Anyway, segera setelah itu, ::yippiiiii...:: parfum jasmin Ibu sisa kejayaan masa lampaunya, habis di lembaran-lembaran surat balasan yang kuberikan kepada Shan secara sembunyi-sembunyi, nyaris setiap hari sepulang sekolah! Dan dampratan pula lah yang kudapatkan dari Ibu... :D***
Menjelang aku naik ke kelas 2 SMP itu, Papah memutuskan untuk kembali ke Jogja, dan memulai lagi usaha entertainment. Karenanya, ia berusaha menjual mobil angkutannya dengan dititipkan kepada kernet yang selama ini setia menemaninya. Sang kernet memberikan sebuah skuter sebagai jaminan. Tunggu punya tunggu, hingga 4 bulan berikutnya sang kernet tak pernah menampakkan diri lagi. Pun sia-sia usaha Papah menjelajahi pelosok-pelosok Lampung. Tersiar kabar bahwa setelah menjual mobil, sang kernet kawin lagi dan lari-entah-ke-mana dengan istri barunya. Akhirnya, Papah terpaksa pulang ke Jogja dan memulai bisnisnya dengan sisa penjualan skuter butut. Dan Tuhan menakdirkan Papah wafat saat berada di Tanjung Karang ::mungkin karena saking dongkolnya kepada sang kernet::.
Di kelas 2 SMP ini aku mendapatkan sahabat-sahabat yang hingga kini masih kekal terjalin. Di masa ini pula aku mengenal seorang yang di mana-mana selalu mengaku sebagai sahabat-bahkan-saudaraku, tetapi akhirnya terbukti sebagai pengkhianat adanya. Seorang yang berhati paling keji yang pernah kutemui dalam hidupku, ternyata menyertai hidupku selama belasan tahun hingga kami selesai kuliah nanti.
***
Sejak kepulangannya dari Lampung, hubunganku dengan Papah tak jarang berujung di pertengkaran. Dalam suasana yang serba kekurangan, Papah nampak menjadi semakin temperamental. Di sisi lain, aku sedang beranjak ke arah keremajaanku. Dengan berbagai cara, aku mulai menuntut agar dipercaya mengatur diri sendiri, sementara Papah semakin tak mempercayai semua orang. Aku mulai membutuhkan biaya-biaya tambahan, sedangkan Papah nyaris tak mampu menyanggupinya. Maka di ujung pertengkaran itu acap kali aku minggat ke rumah Budhe, kakak perempuan Papah, di Langenastran Kidul. Kadang-kadang, kalau sudah tak betah dengan dampratan Papah, malam-malam pun aku jalan kaki sendiri ke sana. Tak satu kali pun Papah pernah mencoba mencariku.
Pernah suatu ketika muncul kesadaranku akan situasi serba terbatas itu, aku minta ijin kepada Ibu untuk nyambi bekerja di sebuah percetakan atas ajakan teman. Namun Ibu tak pernah mengijinkanku. "Mas kan masih Esempe, belum waktunya bekerja. Biarlah Papah dan Ibu yang mengusahakan agar Mas dan adik-adik tetap bisa bersekolah..." "Tapi Bu, kita kan banyak membutuhkan biaya tambahan. Mas kasihan sama Ibu, harus bangun pagi-pagi buta dan..." "Itu memang sudah tanggung jawab Ibu. Mas masih ingat kan, apa yang Mas katakan waktu itu di rumah Pakdhe Darso? Jadi, bantulah Ibu dengan mengerjakan hal-hal yang biasa Mas kerjakan setiap hari. Itu sudah sangat cukup buat Ibu."
Aku diberi tanggungjawab -waktu itu kuberi nama siksaan- pekerjaan rumah tangga yang cukup berat untuk ukuran anak SMP. Setiap sore, aku harus menimba untuk mandi Ibu dan adik-adik ::huh, aku tak sudi menimba untuk Papah, sekiranya pun ia menyuruhku:: dan menyirami tanaman, halaman, dan lantai rumah ::oh ya, sampai lulus SMA, rumah yang kutempati ini masih berlantai tanah. dan kau harus tahu, yang namanya menyirami tanaman itu berarti mengusap setiap lembar daun dengan kain basah. setiap helainya::. Dua atau tiga hari sekali aku mencuci pakaianku sendiri dan pakaian adik-adik, sekaligus menyetrikanya. Kelak waktu SMA, Papah menambah beban tugas mencuci dan menyetrika itu dengan pakaian Ibu dan Papah.
Ibu menyambung rejeki dengan berjualan kayu, arang, dan masakan rumahan, meneruskan warung nenek di rumah Baciro itu pula. Sayur lodeh, kering tempe, tumis kangkung, terik tahu-tempe-telor, tempe goreng, srundeng, adalah menu masakan wajib. Penghasilan yang hanya beberapa ::tak sampai sepuluh:: ribu rupiah sehari. Pun kadang-kadang muncul pula kenakalanku. Kalau sudah tak kuasa menahan hasrat untuk merokok, aku ambil uang Ibu tanpa sepengetahuannya, sekedar untuk bisa membeli sebatang GG Filter. Itu berarti, besok paginya Ibu harus ngutang untuk belanja agar bisa jualan.
::Ah, Ibuku yang malang... Ampunilah anakmu ini::

|  | Ini cuma poto2 iseng yang sayang untuk dibuang. Jadi, daripada jamuren di laptop, maka kurelakan mereka mejeng di situsku ini... Siapa tau Ndoro Tukul berkenan membelinya... :D
|
| |