Brécs' posts with tag: past and future

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag past and future
Jack Dempsey.
Jack Dempsey.
Hulton Archive/Getty Images

Jack Dempsey
Born this day in 1895 was American heavyweight boxing champion Jack Dempsey, who held the world title from 1919, when he knocked out Jess Willard, until 1926, when he lost a 10-round decision to Gene Tunney.
Napoleon in His Study by Jacques-Louis David, 1812; in the National Gallery of Art,
Napoleon in His Study by Jacques-Louis David, 1812; in the National Gallery of Art, …
Francis G. Mayer/Corbis




1812: Russia invaded by Napoleon and his Grand Army
On this day in 1812, French Emperor Napoleon—who had massed his troops in Poland in the spring to intimidate Russian Tsar Alexander I—and 600,000 troops of his Grand Army launched an ill-fated invasion of Russia.
1948:The Berlin blockade intensified when the Soviet Union announced that the Western Allied powers no longer had any rights in Berlin.
1932:The Grand Palace, Bangkok, Thai.The Promoters Revolution, a bloodless coup, overthrew Prajadhipok, the king of Thailand, ending the absolute monarchy in that country and initiating the so-called Constitutional Era.
1859:The Battle of Solferino, the last engagement of the second War of Italian Independence, was fought in Lombardy.
1821:Simón Bolívar, detail of an engraving by C.G. Childs.South American patriots under Simón Bolívar defeated Spanish royalists on the plains near Caracas, Venezuela, in the Battle of Carabobo.
1795:William Smellie, detail of a portrait by an unknown artist.William Smellie, the Scottish compiler of the first edition of Encyclopædia Britannica, died in Edinburgh.
1519:Theodore Beza, portrait by an unknown master of the French school, 1605.Theodore Beza, an author, translator, educator, and theologian who assisted and later succeeded John Calvin as a leader of the Protestant Reformation centred at Geneva, was born.
1497:John Cabot.John Cabot became the first European to set foot in North America since the Vikings.


tugu pembebasan irian barat
lapangan banteng
jakarta

Blog Entrycommemorating HARDIKNASMay 2, '08 6:59 AM
for everyone
this guy teaches fiddling at Taman Suropati Menteng, Jakarta every Sunday 11am-2pm.
Happy birthday Ki Hajar Dewantara.

pic by niken on canon 400D


only in Lao Sam a.k.a Lasem, Central Java

Photo Albumsimbok di grebeg mulud (7 photos)Mar 23, '08 12:21 PM
for everyone

halaman mesjid besar kauman jogja.
simbok ini jualan telor yang diwarnai merah dan disunduk, khas perayaan grebeg mulud.

simbok yang pejuang, pejuang yang simbok

Photo AlbumWhen I was a rock star... (4 photos)Feb 21, '08 5:06 AM
for everyone

daripada suntuk ngeliat message board yang padet dengan reposting mp3, yang hari ini mencapai 450 bijis, and counting....

silakan diketawain lageeeeeeeee.... :))
huahahahahaha....

ReviewReviewReviewReviewReviewArtikel Keren: Pak Harto, Harap Maafkan SayaJan 30, '08 8:46 AM
for everyone
Category:Other
Seruni Ambarkasih -Mahasiswi Fak. Ilmu Budaya UI

Ketika Pak Harto sakit dan masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina sejak 4 Januari hingga wafatnya pada 27 Januari 2008 lalu, banyak pihak yang menghendaki agar masyarakat memaafkan Pak Harto. Kenapa Pak Harto harus dimaafkan tentu saja saya tidak tahu. Ketika Pak Harto mulai memerintah negeri ini, saya belum lahir. Ketika lengser pada 21 Mei 1998, saya masih anak-anak. Praktis saya hanya mengenal Pak Harto dari buku-buku pelajaran sejarah saja.

Dan pelajaran sejarah yang wajib saya pelajari adalah yang bersumber dari buku pelajaran yang resmi dipakai di sekolah. Yang unik, saya menemukan dan membaca beberapa buku tentang pemerintahan Pak Harto, yang justru berbeda jauh isinya daripada yang ada di buku pelajaran sekolah untuk SMP dan SMA yang wajib saya pelajari.

Dalam buku-buku yang sempat saya baca, disebutkan tentang peranan Pak Harto pada tragedi 1 Oktober 1965 yang mengakibatkan beberapa orang jenderal teman baik Pak Harto mati. Selanjutnya terjadi pembantaian massal sehingga tiga juta rakyat Indonesia mati. Ini menurut pengakuan Pak Sarwo Edhie (mertua SBY ---brecs), Komandan RPKAD pada waktu itu, yang mengaku mendapat tugas dari Pak Harto untuk melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang dicurigai menjadi anggota atau simpatisan PKI, dimana partai itu dinyatakan terlibat sebagai dalang terjadinya tragedi 1 Oktober 1965.

Saya tidak mempersoalkan apakah informasi tersebut benar atau tidak, karena tidak termuat dalam buku pelajaran saya. Yang ingin saya pertanyakan, kenapa sejarah peristiwa tersebut simpang-siur dan membingungkan? Dikabarkan bahwa pada 1 Oktober 1965 ada anggota ormas-ormas pendukung PKI yang melakukan kegiatan di Lubang Buaya, melakukan pemotongan kelamin dan mencongkel mata para jenderal serta melakukan pesta Harum Bunga.

Di buku yang saya baca disebutkan di Lubang Buaya tak ada orang lain pada saat itu kecuali anggota Tjakrabirawa yang melakukan pengambilan terhadap para jenderal atas perintah Letkol Untung. Juga di kemudian hari ditemukan visum dari seorang dokter yang memeriksa jenazah para jenderal bahwa mereka tidak ada yang dipotong alat kelaminnya dan juga dicongkel matanya. Mana yang benar?

Saya merasa telah menjadi salah seorang di antara jutaan pelajar yang menjadi korban penipuan atau penggelapan sejarah. Untuk satu peristiwa yang sama muncul berbagai versi sejarah yang bahkan saling bertentangan. Bagaimana saya bisa mengabdikan diri sebagai anak bangsa di negeri ini kalau dibesarkan dengan pemahaman sejarah yang sudah dikorupsi untuk kepentingan politik?

Belum lagi soal Supersemar. Barangkali selama ini saya juga sudah tertipu oleh Supersemar palsu. Kalau demikian, barangkali selama puluhan tahun keberadaan Pak Harto sebagai penguasa Orde Baru sebenarnya merupakan presiden asli tapi palsu. Asli karena diangkat dan disahkan oleh MPR. Palsu karena MPR itu sendiri keberadaannya didasarkan pada Supersemar palsu.

Dengan Supersemar Pak Harto memperoleh kekuasaan. Melalui kekuasaannya Pak Harto dapat mengganti semua anggota MPR dengan kroninya. Terang saja waktu pemilihan presiden Pak Harto menang terus karena sebagai calon tunggal tidak ada yang mengalahkan dan dikalahkan. Pak Harto menjadi presiden bukan dipilh oleh wakil rakyat di MPR tapi oleh kroninya yang telah menguasai MPR.

Bagaimana pula dengan korupsi? Di buku pelajaran sekolah saya tidak disinggung sedikit pun bahwa Pak Harto melakukan korupsi. Tetapi kenapa muncul tudingan gencar bahwa Pak Harto telah melakukan korupsi besar-besaran? Malah mau diseret ke pengadilan karena itu supaya dimaafkan saja? Sayangnya (atau untungnya) dia sakit dan kini tak bisa lagi dihubungi. Lalu bagaimana kepastiannya, Pak Harto itu koruptor atau bukan? Sayang sekali kalau tanda tanya ini terus menjadi beban dan dibawa sampai ke alam baka.

Sungguh ironis. Saya hanya bertanya sebagai generasi muda dan saya masih ragu apakah pertanyaan tersebut akan mendapatkan jawaban yang tuntas. Mungkin jutaan generasi muda kini merupakan generasi tanda tanya atau generasi bingung yang bertanya-tanya karena telah menjadi korban korupsi sejarah bangsanya sendiri.

Karena itu kalau banyak pihak mengusulkan agar Pak Harto dimaafkan, kini saya sebagai bagian dari generasi bingung justru ingin minta maaf pada Pak Harto kalau yang saya tulis tersebut salah, karena tidak sesuai dengan pelajaran sejarah versi Orde Baru. Tetapi saya percaya, tidak sesuai bukan berarti tidak benar. Saya jadi ingat apa yang dikatakan negarawan Inggris Chesterfield, history is only a confused heap of facts. Sejarah hanyalah tumpukan fakta yang membingungkan. Saya kira, mengenai sejarah Pak Harto, tidak ada yang membingungkan. Hanya saja orang dibuat bingung. Dan saya salah seorang korbannya.

Kini Pak Harto hanya akan menjadi bulan-bulanan yang abadi para wayang-wayang politik yang tak punya dalang lagi. Pihak yang membenci karena merasa telah disakiti hanya melihat warna hitam di wajahnya. Pihak pengagum karena pernah dibahagiakan dengan tahta dan harta hanya melihat warna putih di wajahnya. Sikap hitam putih berkait dengan sejarah seseorang bukan hanya munafik tapi juga gombal. Pak Harto menjadi produk gombalisasi justru karena telah memanipulasi sejarah. Pak Harto, maafkan saya.


Sumber:
superkoran apakabar
di situ ada foto penulisnya. cakep! :D


Blog EntryDesoekarnoisasi: Delegitimasi yang Tak TuntasJan 16, '08 1:21 PM
for everyone
Disadur dari tulisan

Agus Sudibyo



Berulang kali rezim Orde Baru berusaha memadamkan pengaruh Soekarno. Hubungan antara Orde Baru dengan Soekarno memang hubungan yang menarik. Sejak awal kepemimpinannya, Soeharto memandang faktor Soekarno sebagai ancaman bagi legitimasi kekuasaannya. Soeharto bukan hanya memaksa Soekarno untuk turun dari kekuasaan, namun juga menggusur kekuatan-kekuatan soekarnois dari panggung pemerintahan dan militer.

Uniknya, setelah Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, situasi tidak semakin membaik bagi Orde Baru. Jasad yang tak berdaya itu justru meninggalkan pengaruh yang semakin merepotkan Orde Baru. Soekarno sebagai institusi politik, ideologi dan sebagai dramatic-person dalam memori kolektif bangsa Indonesia seakan-akan menjadi hantu yang membuat penguasa Orde Baru tak pernah tidur nyenyak. Maka tak henti-hentinya dilakukan usaha untuk memutus mata rantai pengaruh Soekarno dalam kehidupan birokrasi, militer, serta dalam kehidupan masyarakat. Segala sesuatu yang berbau Soekarno selalu dicurigai, ditekan, bahkan kalau perlu diberangus. Rezim Orde Baru secara sistematis dan kontinu menggunakan perangkat-perangkat kekuasaannya untuk melakukan apa yang disebut sebagai desoekarnoisasi.

Karantina politik
Soekarno meninggal dalam status tahanan rumah. Sungguh tragis nasib Sang Proklamator ini di pengujung hidupnya. Ia digiring dalam sebuah karantina politik, diasingkan dari berbagai hal yang membuatnya merasa bermakna, yakni anak-istri, teman seiring, pengikut-pengikut setia, kerumunan massa dan pidato-pidato yang menggairahkan. Bahkan, untuk sekadar menyalurkan hobi berjalan-jalan dan membaca surat kabar pun Soekarno sempat tak diizinkan.

Seperti yang telah diwasiatkan almarhum, keluarga Soekarno hendak memakamkan almarhum di Batu Tulis, Bogor. Namun, sebagai penguasa Orde Baru, Soeharto berkehendak lain. Bagi Soeharto, Bogor terlalu dekat dengan Jakarta dan pemakaman Bung Karno di sana dikhawatirkan suatu hari dapat menimbulkan dampak negatif bagi Orde Baru. Soeharto juga menolak usul pemakaman Bung Karno di taman makam pahlawan di Jakarta. Blitar, nun jauh di sana, tempat asal orangtua Bung Karno, dianggap "aman" untuk memakamkan Putra Sang Fajar.

Upacara pemakaman Soekarno dilaksanakan dengan sederhana dan singkat. Teks pidato pemerintah yang dibacakan Jenderal M Panggabean dibuat sedapat mungkin seimbang dalam menggambarkan kebaikan dan keburukan Bung Karno. Namun, Soeharto juga menunjukkan penghormatannya terhadap Soekarno dengan mengumumkan hari berkabung nasional, sekaligus menggelar upacara pemakaman secara militer.

Dalam hal ini, Soeharto tampak sangat hati-hati dan memperhitungkan benar dampak keputusan yang diambilnya pada momentum kematian Soekarno. Soeharto sadar masyarakat masih banyak yang mengidolakan Soekarno, dan dalam kondisi seperti ini, mengontrol secara ketat proses pemakaman Soekarno dapat menimbulkan gejolak yang tidak menguntungkan. Prioritas Soeharto lebih pada upaya menghindari situasi eksplosif yang bisa muncul akibat suasana emosional di kalangan pendukung Soekarno. Dengan kata lain, Soeharto berusaha untuk mengontrol sekaligus menghormati pengaruh Bung Karno, sebuah taktik yang dipertahankan selama memimpin Orde Baru.

Prediksi Soeharto akan situasi eksplosif itu cukup masuk akal. Kematian Soekarno begitu menggemparkan masyarakat. Ribuan orang berbondong-bondong untuk memberi penghormatan terakhir bagi Soekarno. Media massa memberitakan bagaimana ratusan ribu manusia menyemut di jalan-jalan yang dilalui rombongan jenazah Bung Karno dari Lapangan Udara Bugis Malang, menuju Kota Blitar, Jawa Timur. Harian Kompas (22/6/1970) menggambarkan Kota Blitar yang kecil dan sederhana mendadak sontak menjadi penuh sesak oleh manusia. Orang-orang dari berbagai daerah datang dengan menggunakan mobil, truk, angkutan umum, sepeda motor, sepeda bahkan berjalan kaki untuk menyaksikan pemakaman Soekarno.

Meskipun demikian, masyarakat sesungguhnya menyambut kematian Soekarno dengan gamang. Situasi politik waktu itu membuat masyarakat tidak berani terang-terangan mengekspresikan kesedihan atas meninggalnya Soekarno. Meskipun telah diumumkan hari berkabung nasional, masyarakat Blitar baru berani mengibarkan bendera setengah tiang setelah ada instruksi dari Gubernur Jawa Timur M Noer. Mereka berani keluar rumah, bergerombol dan memperbincangkan apa yang terjadi setelah orang-orang dari luar daerah berdatangan untuk menyaksikan pemakaman Soekarno. (Kompas, 23/06/70)

Suasana serupa juga terjadi di Jakarta. Warta Minggu (5/7/70) memberitakan sedikit sekali pejabat tinggi, pemimpin masyarakat, instansi atau perusahaan yang berani memasang iklan belasungkawa di surat kabar. Warta Minggu mencatat mereka yang berani memasang iklan duka cita adalah DPP PNI, DPP IPKI, Keluarga Yayasan Rehabilitasi Sosial BU NALO, Keluarga Sudarmoto Djakarta, PT Hotel Indonesia Internasional, Brigdjen H Sugandhi, DPP Djamiatul Muslimin Indonesia, DPP GMNI, Fraksi PNI DPR GR dan PPK Kosgoro. "Jang lain2 mungkin 'tidak berani' pasang iklan, atau tidak melihat keuntungannja jang njata," tulis Warta Minggu.

Setelah Soekarno wafat, represi terhadap hal-hal yang berbau Soekarno justru semakin meningkat. Pada awal dekade 1970-an, diskusi tentang Bung Karno sangat dibatasi. Sebuah larangan tak resmi diberlakukan terhadap publikasi tulisan-tulisan politik Bung Karno. Nama presiden pertama Indonesia ini jarang, atau bahkan tidak pernah sama sekali, disebut-sebut oleh unsur-unsur rezim Orde Baru. Meskipun keyakinan bahwa Soekarno adalah perumus Pancasila begitu mengakar kuat dalam skema pemahaman mayoritas bangsa Indonesia, referensi yang mengaitkan Bung Karno dengan Pancasila hampir sepenuhnya diingkari oleh pemerintahan Orde Baru.

Praktik desoekarnoisasi itu merupakan kontinum dari politik yang dijalankan Orde Baru pada saat-saat sebelumnya. Konsolidasi politik pasca-G30S/1965 bukan hanya dilakukan dengan membersihkan tubuh birokrasi dan militer dari unsur-unsur PKI dan simpatisannya, namun juga dari unsur-unsur soekarnois. Amputasi politik dalam skala masif dialami kalangan loyalis Soekarno di berbagai tingkatan birokrasi dan militer. Ada yang sekadar digeser posisinya, dipecat, dipenjarakan, bahkan ada yang turut dilenyapkan dalam huru-hara politik yang penuh darah itu.

Lewat fusi paksa selepas tahun 1973, PNI sebagai simbol kelembagaan yang paling langsung dari Soekarno, dipaksa meleburkan diri dalam wadah yang justru lebih sempit, Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Orang-orang PNI yang masih Soekarnois tak diberi pilihan lain, bahkan teror-teror langsung dan sistematis dialami aktivis-aktivis PNI di pusat dan terutama sekali di daerah yang berusaha melakukan perlawanan.

Rezim Orde Baru juga sempat melarang penggunaan gambar dan simbol Soekarno dalam kampanye Pemilu 1987, meskipun pelarangan ini terbukti tidak efektif. Pelarangan gambar Soekarno ini merupakan ekspresi permukaan dari tindakan sistematis rezim Orde Baru untuk menggunakan status legal-formalnya guna menyudahi eksistensi Soekarno sebagai ideologi dan institusi politik. Demikian juga ketika Orde Baru menghalangi usaha Rachmawati Soekarno untuk mendirikan Universitas Bung Karno tahun 1984. Yang terakhir dan paling fenomenal, rezim Orde Baru secara kasar menggusur Megawati Soekarnoputri dari pucuk pimpinan PDI tahun 1996.

Pancasila dan Bung Karno
Khalayak nasional pernah dibikin heboh oleh artikel berjudul Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara di Sinar Harapan, 3 Agustus 1981. Artikel ini ditulis Nugroho Notosusanto yang ketika itu sebagai Kepala Pusat Sejarah Militer ABRI. Dalam artikelnya, Nugroho menyatakan Soekarno bukan orang pertama yang merumuskan lima prinsip Pancasila. Menurut Nugroho, perumus utama Pancasila adalah Muhammad Yamin, Supomo, baru kemudian Soekarno. Peran Soekarno hanyalah dalam hal memunculkan istilah Pancasila. Bertolak dari premis ini, Nugroho juga menggugat keabsahan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila.

Menarik untuk dicatat, premis yang merupakan reevaluasi terhadap sejarah Pancasila ini paralel dengan perubahan kebijakan rezim Orde Baru. Soeharto kemudian menghapus peringatan lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni, dan melarang semua bentuk peringatan pada tanggal itu. Meskipun menimbulkan keberatan dari berbagai pihak, rezim Orde Baru secara terang-terangan justru mengabsahkan premis Nugroho. Tahun 1982, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan artikel Nugroho itu menjadi sebuah booklet 69 halaman yang dijadikan bacaan wajib bagi para guru pengajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Ada hal yang kurang relevan dalam tulisan Nugroho. Perumusan Pancasila adalah proses sejarah yang terjadi tahun 1945, namun Nugroho menghubung-hubungkannya dengan apa yang terjadi pada dekade 1960-an. Nugroho menegaskan, generasi muda perlu diberi tahu pengalaman sejarah Orde Lama di mana ideologi marxisme-leninisme berkembang, agar mereka tidak mengulangi salah langkah pada masa itu, semata-mata hanya karena tidak tahu. Nugroho juga melihat pencabutan kekuasaan pemerintahan dari Soekarno oleh MPRS tahun 1967 adalah "faktor yang menjulang tinggi" di dalam persoalan pengamanan Pancasila dari ancaman ideologi marxisme-leninisme sebagaimana yang dimaksud oleh Ketetapan MPRS No XXV/ MPRS/1966.

Selanjutnya, menurut Nugroho, penghormatan terhadap jasa-jasa Soekarno seharusnya tidak membutakan mata masyarakat terhadap "kenyataan bahwa selama zaman Orde Lama itu, Bung Karno memberikan keleluasaan bergerak kepada PKI, dan bahkan mendukung partai itu dengan menyingkirkan kekuatan-kekuatan Pancasilais yang dapat mengimbangi kaum komunis..."

Perlu dipertanyakan apa relevansi ditampilkannya "tafsir" sejarah itu. Sebab Nugroho tidak sedang berbicara tentang ancaman komunisme terhadap Pancasila, atau "kesaktian" Pancasila dalam menghadapi berbagai rongrongan. Proses perumusan Pancasila notabene berhenti pada 18 Agustus 1945 ketika PPKI mengesahkan UUD 1945, dan tentu saja berbeda dengan "proses perjalanan Pancasila sebagai dasar negara". Nugroho terlalu jauh masuk dalam pembahasan tentang sepak terjang politik Soekarno sehingga sedikit keluar dari konteks bahasan lahirnya Pancasila.

Di sisi lain, Nugroho juga menegaskan rumusan Pancasila 1 Juni 1945 rentan terhadap ancaman komunisme. Nugroho menunjukkan bagaimana tokoh PKI seperti DN Aidit dan Nyoto pernah menggunakan sila internasionalisme, salah satu sila dalam Pancasila rumusan 1 Juni, untuk mendukung ide-ide komunismenya. Sebuah kesimpulan yang simplistik. Legitimasi atas rumusan Pancasila 1 Juni juga datang dari berbagai pihak, dengan latar belakang dan alasan yang berbeda dengan yang diutarakan tokoh PKI tadi.

Dua minggu setelah artikel Nugroho itu dimuat, Institut Soekarno-Hatta mengumumkan "Deklarasi Pancasila" yang berisi penegasan bahwa tanggal 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila. Deklarasi ini ditandatangani 17 tokoh masyarakat yang sebagian mempunyai latar belakang antikomunis. Mereka di antaranya adalah Jusuf Hasyim (pemimpin PPP), Usep Ranawijaya (pemimpin senior PDI), HR Dharsono (mantan Sekretaris Jenderal ASEAN) dan Jenderal (Purn) Hugeng. Deklarasi ini dibacakan di Monumen Soekarno-Hatta, Jalan Proklamasi Jakarta pada pukul 00.00, 17 Agustus 1981. Sebuah pemandangan yang menarik. Sejumlah tokoh dengan otoritas politik yang tinggi melakukan perlawanan simbolis terhadap seorang ahli sejarah yang baru saja menggugat sebuah versi sejarah. Kompetensi akademis dilawan secara politis.

Dalam kacamata Brooks, tindakan Nugroho di atas mendapat restu pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk menciptakan "keseimbangan" perspektif tentang Soekarno. Peningkatan idealisasi terhadap Soekarno di kalangan loyalis Soekarno dan generasi muda, diimbangi dengan usaha-usaha untuk menegaskan makna penting Soekarno dalam konteks sejarah. Kebangkitan kekuatan nostalgis terhadap Soekarno dan semakin kuatnya mitos-mitos tentang Soekarno sekitar tahun 1978 cukup mengkhawatirkan Orde Baru sehingga Nugroho diinstruksikan untuk melakukan counter dengan menciptakan gambaran-gambaran yang negatif tentang Soekarno.

Meskipun premis-premisnya sempat memicu kontroversi, Nugroho dipromosikan pemerintah menjadi Rektor UI tahun 1982. Setahun kemudian, Nugroho diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam jabatan yang terakhir ini, Nugroho pernah diinstruksikan Soeharto untuk merevisi pelajaran sejarah sekolah dengan menekankan instabilitas politik di era kepemimpinan Soekarno tahun 50-an. Berawal dari sinilah kemudian bermunculan konstruksi-konstruksi unfavourable tentang Soekarno dalam buku teks sejarah.

Konstruksi unfavourable tentang Soekarno diidentifikasi Leigh dalam buku teks Tiga Puluh Tahun Indonesia Merdeka. Buku ini terdiri dari empat volume: volume 1 dan 2 menjelaskan sejarah era kepemimpinan Soekarno. Volume 1 (1945-1949) diawali dengan sampul foto Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dalam kacamata Leigh, foto yang memperlihatkan Soekarno sedang menundukkan pandangannya ini cenderung menafikan kharisma Soekarno. Buku ini terdiri dari 254 halaman dilengkapi dengan foto atau gambar. Namun, foto Soekarno hanya dimunculkan 14 kali dan menurut Leigh rata-rata berupa foto yang sulit diamati karena berukuran kecil atau foto dengan sudut pengambilan yang kurang tepat.

Leigh membandingkannya dengan foto-foto Letkol Soeharto. Di antaranya adalah foto yang menonjolkan wajahnya, serta foto yang menunjukkan dia sedang di tengah-tengah kerumunan prajurit, yang menggambarkan peran pentingnya dalam Serangan Oemoem I Maret 1949 di Yogyakarta. Foto yang lain berupa foto sepenuh halaman Soeharto dengan para veteran perang, serta foto Soeharto dengan Sultan Yogyakarta. Foto-foto ini, menurut Leigh, memperteguh citra Soeharto sebagai militer yang bersih dan sosok pemimpin yang terpercaya.

Periode 1945-1949 merupakan puncak karier Soekarno sebagai negarawan maupun politisi. Namun, eksistensi Soekarno justru dikecilkan atau dikeluarkan dari teks resmi pemerintah yang membahas sejarah periode itu. Eksklusi terhadap eksistensi Soekarno bersandingan dengan inklusi terhadap eksistensi militer di era revolusi fisik, dengan penonjolan peranan Soeharto pada momentum Serangan Oemoem 1 Maret.

Satu fakta yang sangat menarik juga ditemukan Leigh dalam soal-soal ujian untuk materi sejarah tingkat sekolah dasar. Dalam soal-soal pilihan berganda itu, Soekarno ternyata banyak ditempatkan pada pilihan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan seputar Pancasila, perjuangan melawan penjajah, dan penumpasan pemberontakan pascakemerdekaan. Sebaliknya, Leigh tidak menemukan satu pun soal ujian yang menempatkan nama Soeharto dalam pilihan jawaban yang salah. Fakta ini menurut Leigh dapat berdampak buruk terhadap persepsi siswa terhadap peranan Soekarno maupun Soeharto dalam sejarah.

Meminjam istilah Cornelis Lay, Soekarno bukan saja terus bertahan sebagai ideologi dan pemikiran politik, namun dari waktu ke waktu mendapatkan impor energi yang semakin besar dari kegagalan Orde Baru dalam merumuskan ideologi yang ingin mereka bangun.

* Agus Sudibyo

Peneliti pada Institut Studi Arus Informasi Jakarta, menulis buku Citra Bung Karno, Analisis Berita Pers Orde Baru


Blog EntrySaat Sakit, Resep Soekarno Disimpan di Laci Jan 15, '08 12:09 AM
for everyone
Catatan Asvi Warman Adam

Tanggal 12 Januari 2008 pukul 09.44 di Cendana, Ismail Saleh membagikan fotokopi tulisannya yang dimuat pada harian Pelita berjudul Marilah Kita Bangsa Indonesia Wujudkan Petuah: Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Di dalam artikel yang ditulis mantan Jaksa Agung era Orde Baru itu dikatakan bahwa Soeharto mengagungkan nama Soekarno dan mengubur dalam-dalam kesalahan Bung Karno.

Betulkah Soeharto melaksanakan prinsip menghormati orang yang lebih tua itu dalam kasus upaya pengadilan terhadap mantan Presiden Soekarno dan lebih-lebih dalam perawatan sang proklamator? Presiden Soekarno tidak dibawa ke pengadilan dengan alasan yang sangat strategis. Kalau dia disidangkan, tentu akan timbul protes dari para pendukung Bung Karno yang masih banyak. Di samping itu, pengadilan bisa membebaskannya karena tidak cukup bukti dia terlibat dalam upaya kudeta yang janggal itu.

Sementara itu, perawatan yang diberikan kepada Presiden Soekarno betul-betul tidak manusiawi. Bagai bumi dengan langit bila dibandingkan dengan perawatan sempurna yang diterima orang kuat Orde Baru itu. Selama 10 kali mengalami masalah kesehatan sejak berhenti jadi presiden pada 1998, Soeharto betul-betul memperoleh perhatian medis yang luar biasa.

Jenderal besar Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada ruang 536 yang seakan-akan sudah menjadi ruang khusus perawatan presiden. Bukan hanya dokter kepresidenan, tetapi juga dokter ahli lain dikerahkan sehingga sampai berjumlah puluhan orang. Maka, berdatanganlah para selebriti pemerintahan, dari mantan pejabat era Orde Baru sampai kepada presiden dan wakilnya. Awal Januari 2008 ketika Soeharto kembali masuk rumah sakit, dia memperoleh perhatian yang luar biasa dari kru televisi yang berbondong-bondong menunggu pengumuman hasil kesehatan setiap hari dan malam.

Berita medis itu berfluktuasi, kesehatan Soeharto menurun, membaik, membaik dari pagi tadi tetapi masih kritis, gawat tetapi masih bisa diatasi, tergantung dari alat-alat bantu. Bahkan, Menteri Kesehatan yang entah terselip lidah mengatakan bahwa Soeharto mengalami kehidupan semu karena fungsi-fungsi organ tubuhnya saat ini digantikan oleh mesin.

Perawatan Bung Karno
Soekarno pernah mengalami gangguan ginjal dan pernah dirawat di Wina pada 1961 dan 1964. Prof Dr K. Fellinger menyarankan agar ginjal kiri tersebut diangkat saja. Bung Karno menjawab, "Nanti saja, ik moet mijn taak afronde (Saya harus menyelesaikan tugas saja). Tugas yang belum selesai itu adalah mengembalikan Irian Barat ke pangkuan RI. Pada masa selanjutnya, pengobatan dengan ramuan tradisional Tiongkok/akupunktur diberikan dokter dari RRT.

Pada 4 Agustus 1965 terjadi suatu peristiwa yang ikut memicu pecahnya Gerakan 30 September, yaitu sakitnya Bung Karno. Beredar rumor bahwa Soekarno pingsan dan mengalami koma. Sebetulnya yang terjadi, Bung Karno mengalami TIA (transient ischaemic attack), yaitu stroke ringan akibat penyempitan sesaat (spasme) pada pembuluh darah otak. Bukan stroke karena perdarahan atau adanya bekuan darah dalam pembuluh darah otak. Dokter meminta Soekarno berbaring di kamar. Para dokter menyarankan agar dia tidak usah berpidato pada 17 Agustus 1965 karena kondisi kesehatannya belum pulih. Seandainya dia berpidato, jangan lebih dari satu jam. Ternyata Presiden Soekarno berpidato lebih dari satu jam dan untungnya tidak terjadi apa-apa.

Awal 1969, Soekarno pindah dalam status bisa dikatakan "tahanan rumah" ke Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto (sekarang Museum Satria Mandala). Sementara itu, presiden RI pertama itu terus diperiksa oleh Kopkamtib. Setelah sakit Soekarno makin parah, barulah Soeharto memerintahkan menghentikan interogasi.

Soekarno mendapat perawatan reguler seperti di rumah sakit biasa, dalam arti diukur suhu badan dan tekanan darah beberapa kali dalam sehari serta jumlah air kencing selama 24 jam. Pernah ada pemeriksaan rontgen. Tidak diberikan diet khusus seperti yang dilakukan terhadap pasien gangguan ginjal. Ketika kondisi Bung Karno kritis, Prof Mahar Mardjono sempat menceritakan kepada Dr Kartono Mohammad bahwa obat yang diresepkannya disimpan saja di laci oleh "dokter yang berpangkat tinggi".

Hanya Diberi Vitamin
Menurut catatan perawat di Wisma Yaso, obat yang diberikan kepada Soekarno adalah vitamin B 12, vitamin B kompleks, Duvadilan, dan Royal Jelly (yang sebenarnya madu). Duvadilan adalah obat untuk mengurangi penyempitan pembuluh darah periferi. Kalau sakit kepala diberi novalgin, sekali-sekali kalau sulit tidur, Soekarno diberi tablet valium.

Ketika tekanan darahnya relatif tinggi, 170/100, tidak diberikan obat untuk menurunkannya. Juga tidak tercatat obat untuk melancarkan kencing ketika terjadi pembengkakan. Bung Karno telah ditelantarkan.

Pada 22 Mei 2006 bersama dr Kartono Mohammad, saya berkunjung ke rumah Rachmawati Soekarnoputri di Jalan Jatipadang, Jakarta Selatan. Rachmawati bercerita tentang dr Suroyo adalah seorang dokter dari dinas kesehatan Angkatan Darat berpangkat kapten (kemudian mayor) yang ditempatkan di Istana menjelang 1965.

Menurut Rachmawati, dr Suroyo inilah yang biasanya merawat hewan-hewan yang ada di Istana Merdeka. Yang aneh pula, urine Soekarno diperiksa pada laboratorim Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Entah tidak ada laboratorium yang lain waktu itu di Jakarta. Kami sempat melihat surat dari Pangdam Siliwangi Mayjen HR. Dharsono yang melarang seluruh warga Jawa Barat mengunjungi atau dikunjungi Soekarno. Selain itu, ada surat dari Pangdam Jaya Amir Machmud yang menetapkan bahwa seluruh dokter yang akan mengunjungi Bung Karno harus sepengetahuan dan didampingi dr Kapten Suroyo.

Ketika kesehatan Soekarno semakin kritis, pipinya terlihat bengkak, gejala pasien gagal ginjal. Guruh dan Rachmawati sempat memotret ayahnya. Foto itu sempat beredar pada pers asing. Guruh dan Rachmawati kontan diinterogasi di markas CPM Guntur, Jakarta.

Kenyataan yang tidak banyak diketahui masyarakat tentang kondisi kesehatan dan perawatan Bung Karno sengaja dikemukakan di sini, sungguhpun teramat pahit, bukanlah untuk memelihara dendam. Ini demi menuruti pandangan beliau agar kita "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Bangsa ini perlu belajar dan memetik hikmah dari sejarah masa lampau agar lebih arif dan proporsional dalam menyikapi persoalan hari ini.

::Dr Asvi Warman Adam; sejarahwan senior, ahli peneliti utama LIPI::

Category:   Real Estate
Price:   Rp.1,3 M

Lokasi di tengah kota Jogja
kira2 300 meter di sebelah barat Jalan Malioboro


Click a thumbnail to enlarge:
 


Blog Entrybest wishesDec 2, '07 4:46 AM
for everyone
::pura2 jadi penyiar::

Para sahabat dan pendengar setia Radio Ndiwek yang berbahagia,
Jumpa kembali kita di programa best wishes, seperti biasa di setiap tanggal 2 Desember.
Tanpa terasa, perjalanan sudah lumayan panjang rupanya. Kadang lelah menerpa, namun karena berjalan bersama jadi menyenangkan. Banyak obrolan dan celaan, dan tak kurang banyaknya pula bantuan yang telah saling terbagi di antara kita. Yang paling penting, kebahagiaan sahabat dan pendengar setia semuanya senantiasa penyiar harapkan menemani perjalanan kita semua.

Terimakasih buat semua greeting beserta doa yang teriring pada noktah awal terminal, baik yang dikirimkan melalui kantor telepon maupun melalui siaran Radio Pemerintah Daerah Kabupaten Ndiwek ini.

Sementara rekan kami sedang menyiapkan lagu-lagu yang akan diputar, di studio saat ini sudah menumpuk kartu-kartu ucapan yang akan penyiar bacakan, khususnya buat:
- Nozqa di Pondok Penantian: masa iya kamu akan memanggil Anna sebagai Mama?
- Rahman Seblat di Gubug Derita: gimana perburuannya? kalau ndak dapat gadis pelangi, gadis citos ya bagus. asal jangan dapat mr. knox aja kan?
- Rahman Jafar yang sedang kuliah: rajinlah belajar ya nak. bangsa dan negara menunggu kiprahmu.
- Sabar di Terminal Tirtonadi: jaga baik2 warungnya ya. itu preman2 jangan boleh ngutang. kalau mereka ngeyel, jangan ragu2 cabut pedang.
- Debi di perempatan Malioboro: tolong jagain Ario Perangsang ya. jangan digodain. itu namanya pren makan pren.
- Lisa yang sedang nyepi di Padepokan RSJ Pakem: sedang ngimpi nanem pohon atau nanem Nikon?
- Arie di Mbogor: wah, si Mbak jangan terlalu banyak bergaul sama orangutan ya, ntar kalau berubah jadi kingkong gimana?
- Hanum di Jakarta: terus berkarya ya.
- Wirday di Mbekasi (ralat: Ndepok): semoga sehat2 selalu. titip anak2 ya. kalau ada yang nakal boleh dijewer tapi jangan keras2 ya. ntar kupingnya jadi kayak bobo.
- Tatta yang sedang ngambek di Semarang: kalau kamu dimanfaatin, tarik bayarannya dong... ntar bisa buat nraktir kita-kita kan?
- Prof. Mer di ASU: ditunggu njegognya... tapi jasnya dibalik dulu dong...
- Ella di Serpong: terimakasih atas kiriman lagunya. itu yang milih lagu si Willy ya? ini saya kirimi lagu Kucing Garong versi gambang kromong...
- Pras di mana aja berada: kalau naik angkot hati-hati ya, jangan nyopet...
- Indri di Jakarta: salam untuk kakakmu, semoga segera pulih kembali.
- Opang di Jakarta: ini akhir pekan liburan ke mana?
- Om Deny Ratulangi di Jakarta: jangan hukum aku dengan pujianmu, suhu...
- Mbak Ita di Paris: terimakasih banget sudah ditelpon dari jauh... waduh, sempat kaget juga lhooo, dengar suaranya jernih sekaliiii...
- Susan di peraduan: ayo mandi doong, matahari sudah tinggi...
- Bebe di Philipina: have a great shooting ya, semoga filmnya digemari oleh khalayak.
- Andhi di Magetan: ayo bangun dan bergerak bung. ayam jantan sudah berkokok.
- Rico di TKP: ada barang baru?
- Adekku Ima di mana pun berada: terimakasih atas do'amu ya Dek. kita sama2 percaya bahwa Allah swt selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk kita. ambil hikmahnya ya Dek, jangan surut semangat perjuanganmu.
- Mbak Irina di Pondok Keraguan: boleh tidak kalau cerpenmu diterbitkan di sini?
- Mas Ciput di Pondok Persimpangan: nggak bosen ke Padang melulu Mas? mbok sekali2 peteng...
- Mbak Triana yang
sibuk dengan bantal cinta: salam buat Hito ya.
- Yainal yang Pondok Kerinduan: ya, trimakasih salamnya. semoga gagasan bisa segera direalisasikan.
- Hida yang sedang di Jakarta: nanti malam "diusahakan" dengan baik ya. salam buat mas Amir.
- Stan di Laut Merah: nggak bosen lautnya merah melulu? tolong dicat kuning doong...
- Mbak Rini : terimakasih ucapan selamatnya ya Mbak. salam untuk Fadhil dan seluruh keluarga.
- Eriq yang baru pulang dari Workshop: tambah ilmu ya Riq? semoga segera bisa jadi menteri, ya minimal dirjen deeeh...
- Mas Hangtuah di Warbun: ada diskon berapa untuk bengkelnya ya Mas?
- Mas Jaka di Pekanbaru: titip salam buat kopi Kim Teng ya...
- Mbak Jahewangi di Magelang: gimana Mbak jualan jahenya di Medan? kayaknya kelarisan ya?
- Sigit yang sedang dibajak di Bali: motret artis ato motret "sumur" di Kuta to Mas Sigit?
- Wiwit di Mbantul: sibuk momong Vari atau momong bapaknya nih?
- Mbak Etty di Kelapa Gading: ayo, kapan jadi mampir sama Aura?
- Gabby Schroeder in Holland: kalau mau nengok kota kelahiranmu Surabaya, bisa ngajak saya sebagai guide.
- tak lupa buat ponakan2 yang manis dan lucu, iiE dan Luki: rukun-rukun selalu dengan pasangan masing-masing ya. jangan ketuker...
- horeee, barusan terima pesan dari Ibu Presiden yang sedang kampanye keliling dunia: terimakasih Bu, amanat Ibu akan kami laksanakan. saya ndak njiplak lho...
- buat Kak Monike, Pritha, Wira, Wiwin, Mas Bambang, Puji, Vera, dan Alya... di manapun berada: terimakasih, terimakasih, terimakasih...

serta salam manis buat semua saja yang sudah kirim salam.
semoga persahabatan antar pendengar Radio Ndiwek semakin terjalin erat.

sinambi nyruput kopi dan menikmati nyamikan pisang goreng, tahu dan tempe bacem, penyiar ucapkan selamat menikmati lagu berikut ini. monggo...

sekali di udara, tetap bercelana!


Blog Entryper aspera ad astraDec 1, '07 11:09 AM
for everyone

sebenarnya aku tak pernah menganggap istimewa setiap titik nol yang kulewati. mereka menggaib seperti bulan yang pun tak setiap malam menggenapi langitnya. seperti stasiun jombang yang kereta hanya berhenti untuk menaikturunkan penumpang dan pergi lagi. seperti tonggak kilometer yang berjejer dari januari ke desember. kecuali pada suatu nol ketika nadir hadir, dan aku meminta untuk disudahi bila memang tiada lagi yang bisa kutafakuri.

mungkin aku terlalu peduli pada masa depan yang kata ngén temanku, sesungguhnya teramat mudah diingkari existensinya: cukup mengalir saja entah ke mana. mungkin juga sekaligus terlalu peduli dengan masa lalu, sehingga banyak kelopak dan duri terbawa berlari hingga kini. kuperkenalkan kau kepada badai kembarku yang kian sering bertumbukan melahirkan keos meninggalkan lepuh-lepuh hati yang selalu ingin dibelai lembut oleh keteguhan.

dan di titik nol yang ini seorang teman seperjalanan memintaku untuk kembali, menziarahi takdir.
maka relalah bila kukatakan kepadamu;

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku ingin menumburkan badai jadi momentum pembuktian kesetiaan pada cita-cita.

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku ingin meluruhkan batin ke dalam iramanya sang alam.

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku ingin kekasihku terbang menggapai bintang.

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku ingin lebih kukuh merengkuh gagasan purba sangkan paraning dumadi.

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku ingin terjaga pada dataran tak hingga. menatap matamu tanpa jemu.

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku merindukan luka medan laga.

ini titik nol ketigapuluh sembilan. aku tersenyum. dan berharap inilah bahagia.

ini titik nol yang ketigapuluh sembilan. the price of a faith is a prize to your fate.


kepada sesiapapun yang ingin bersama menziarahi takdir, atau luka.
tetaplah menapaki bumi.


Photo AlbumPeople and Expression (19 photos)Nov 27, '07 5:44 AM
for everyone

Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car-free Day)
Kawasan Kota Tua, Jakarta
25 Nov 07

Photo AlbumDiary Mudik 4: Tour de Kota Gede (27 photos)Oct 20, '07 10:55 AM
for everyone

Rabu 17/10/07
Kemarin kami sudah janjian dengan Mas Tjah dan Mbak Ita (menantu dan anak dari bapak angkatku) untuk hunting ke kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Kota Gede. Hasilnya silakan dinikmati di bawah ini. Kami berangkat pukul 9 pagi langsung ke kompleks pemakaman yang ternyata tidak hanya berisi pusara dan nisan saja, tetapi juga terdapat situs pemandian para putra dan putri keluarga kerajaan, serta Masjid Besar Mataram.

Selagi asik motret pagar kompleks, ada seorang penduduk yang memberi tahu kami bahwa di arah barat (belakang) makam terdapat banyak bangunan kuno khas Kota Gede yang keren untuk menjadi obyek pemotretan. Maka, kami berempat segera bergegas menuju lokasi yang ditunjukkannya, yang ternyata tidak sedekat yang kami perkirakan. Wah, ternyata bener, banyak obyek yang menarik untuk jadi ajang narsis.

Di sebuah gang yang sempit, ada sebuah tembok memanjang yang hanya memiliki sebuah rolling door alumunium. Tetapi ketika pintu itu terbuka, wow, di dalamnya terdapat semacam kompleks rumah khas Kota Gede. Menurut Pak Bambang pemiliknya, rumah itu dibangun tahun 1844 dan dimiliki oleh kakek mertuanya sebelum dibelinya tahun 1994.

Di seputar lokasi hunting masih banyak terdapat obyek lain yang bagus. Tetapi secara nanti masih ada agenda kopdar dengan MPers Jogja dan sekitarnya, maka acara hunting dengan terpaksa disudahi jam 14.

Kami berdua datang ke Dixie Cafe pukul 16. Wah, senang sekali akhirnya bisa ketemu dengan Pakdhe Yo, dan lain-lain. Secara Niken hanya ngambil 1 foto keluarga, foto2 yang lainnya bisa dilihat di:

http://jejakkakiku.multiply.com/photos/album/79
http://walah.multiply.com/photos/album/67
http://laalaalaa.multiply.com/photos/album/54/

Kamis 18/10/07
Karena mobil harus kembali ke bengkel, maka dari jam 9 sampai jam 14 aku kembali menunggui aktivitas perbaikan, sementara Niken pergi berburu NG lawas di Shopping Center, sekaligus belanja bekal perjalanan balik ke Jakarta nanti sore.

Pada pukul 16 kami berangkat dari rumah untuk menempuh perjalanan selama 13 jam ke Bogor via Bandung-Puncak, dan mampir menginap sehari semalam di rumah kakak Niken di Bogor Raya.


original version
all pictures are taken by Niken
except:
-Njedid & Riang Gembira by brecs
-Sang Permaisuri, Setia & Jendela Sederhana by Mas Tjah

Blog EntryCirebonOct 5, '07 1:35 PM
for everyone
Kutemukan di sebuah sudut
dalam lorong ingatan yang samar
malamnya terminal

Terminalnya malam
ditemani 3 bungkus nasi jamblang
sambal dan ikan asin

: kurasakan lagi demam itu
tanpa ayah
kali ini

Photo AlbumMy hair style (18 photos)Oct 3, '07 3:03 PM
for everyone

the name is also style, can be right can be also lying-an** :p

silakan komentar sepuasnyaaaaaaa, secara istri gw aja ketawa ngakak guling-guling tiap kali liyat poto-poto inih.... :))

btw, gaya mana yang paling keren?
gaya mana yang bikin ilfil?
:D


**namanya juga gaya, bisa beneran bisa juga bo'ongan

EventNonton Nyai Ontosoroh - the TheaterJul 27, '07 2:50 PM
for everyone
Start:     Aug 12, '07 7:00p
Location:     GBB-TIM
Sebuah pementasan adaptasi dari Bumi Manusia karya sang pujangga terbesar Indonesia, Pramudya Ananta Toer.

Blog EntryKetika Luka DigaramiJul 19, '07 7:14 AM
for everyone
Siang itu, tanah kota Sura pecah berkeping-keping.

Sepasukan orang berseragam berarakan bersama rakyat yang bersorak sorai menyeret-nyeret puluhan, oh, ratusan tubuh manusia, beberapa di antaranya terlihat tanpa kepala. Kerusuhan yang dipicu oleh perebutan kekuasaan di Ibukota Jaya beberapa bulan sebelumnya. Rakyat disulut kebenciannya dan dilibatkan dalam kancah pertikaian, menjadi pendukung yang paling antusias. Orang-orang berseragam mengikuti di belakang, menyemangati. Rakyat berteriak, memukul, menggebug, menebas, membakar, mengobrak-abrik semua yang dianggapnya tak sepaham.

Orang-orang berseragam semakin bersemangat menyemangati.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.