Brécs' posts with tag: perjalanan

|  | only in Lao Sam a.k.a Lasem, Central Java |

|  | Only in Grobogan, Central Java |

|  | [untuk kartini di tanah kelahirannya]
matahari meledak di kepala jatuh sinarmu satu satu anak jaman, ayo ikut aku pergi kita, membelah matahati buta!
pic by niken 26apr08 |
Link: http://www.ahmadinejad.ir/just to remind myself that i dedicate, and shall always dedicate, my struggle for the freedom of the people of my country.
MOVE!!! MOVE!!! MOVE ONWARD!!!
Quoted from one of his threads: Merry Christmas to everyone! 2006/12/21
In the Name of Almighty God, the Most Merciful, the Most Compassionate Merry Christmas to everyone!
My sincere congratulations to everyone for the Glorious and Auspicious Birthday of Divine Prophet - confirmed and authenticated by Gabriel, the angel of Divine revelation - the Obedient of Almighty God,
Jesus Christ, the Messiah (peace be upon Him)
He was a messenger of peace, devotion and love based upon monotheism and justice. He was raised in His Mother’s hand – Virgin Mary (peace be upon her) – that Almighty God stood her as impeccable and exalted her above the women of the world. The Mother and the Son that in the Divine Sight are reputable and prestigious. And they are positioned by God – The All Wise- at a sublime level.
There’s no doubt, after God – the Peerless Creator, the Beneficent, the Merciful – created the human beings, did not forsake them on their own. By sending and assigning the emissaries – prophets and messengers - along with the righteous individuals, and on top of that, by providing and utilizing the mankind with the gifts of intellect and human nature, they are guided in the right path – in order to achieve the complete perfection. The human generations – one after another – were not created to live in anguish, intimidation, skirmish, aggression, oppression, and misery. And without enjoying an amity and fraternity atmosphere - replete of love and justice – depart this life and leave it for the next generations.
The philosophy of human creation is: reaching the pinnacle of bliss, construction of immaculate life, efflorescence of all potentialities and talents, implementation of justice and devotion across the world amongst all human beings. This is one of the definite Divine promises that when the world is filled with oppression and enmity by the tyrants and oppressors, it will become full of justice by the reappearance of the promised Savior. All the Divine Prophets have clearly anounced this fact.
Unfortunately during the history, some egoistic and tyrant individuals have existed that stood against the convocations and the sermons of the Divine Prophets. And these tyrants and oppressors were the causation of all the adversities and the originator of all wars and animosities. 

|  | ini kunci-kunci hotel. sebagian emang diberikan sebagai suvenir. sebagian lagi separuh nyolong! :D |

|  | JOG - CGK GA 203 22 Mar 08 ETD 740 ETA 830 seat 6D alone |

|  | joyful friends make me happy... :) |

|  | a girl is in silence but her heart is whispering for love
pic by brecs |
Disadur dari tulisan
Agus Sudibyo
Berulang kali rezim Orde Baru berusaha memadamkan pengaruh Soekarno. Hubungan antara Orde Baru dengan Soekarno memang hubungan yang menarik. Sejak awal kepemimpinannya, Soeharto memandang faktor Soekarno sebagai ancaman bagi legitimasi kekuasaannya. Soeharto bukan hanya memaksa Soekarno untuk turun dari kekuasaan, namun juga menggusur kekuatan-kekuatan soekarnois dari panggung pemerintahan dan militer. Uniknya, setelah Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, situasi tidak semakin membaik bagi Orde Baru. Jasad yang tak berdaya itu justru meninggalkan pengaruh yang semakin merepotkan Orde Baru. Soekarno sebagai institusi politik, ideologi dan sebagai dramatic-person dalam memori kolektif bangsa Indonesia seakan-akan menjadi hantu yang membuat penguasa Orde Baru tak pernah tidur nyenyak. Maka tak henti-hentinya dilakukan usaha untuk memutus mata rantai pengaruh Soekarno dalam kehidupan birokrasi, militer, serta dalam kehidupan masyarakat. Segala sesuatu yang berbau Soekarno selalu dicurigai, ditekan, bahkan kalau perlu diberangus. Rezim Orde Baru secara sistematis dan kontinu menggunakan perangkat-perangkat kekuasaannya untuk melakukan apa yang disebut sebagai desoekarnoisasi. Karantina politik Soekarno meninggal dalam status tahanan rumah. Sungguh tragis nasib Sang Proklamator ini di pengujung hidupnya. Ia digiring dalam sebuah karantina politik, diasingkan dari berbagai hal yang membuatnya merasa bermakna, yakni anak-istri, teman seiring, pengikut-pengikut setia, kerumunan massa dan pidato-pidato yang menggairahkan. Bahkan, untuk sekadar menyalurkan hobi berjalan-jalan dan membaca surat kabar pun Soekarno sempat tak diizinkan. Seperti yang telah diwasiatkan almarhum, keluarga Soekarno hendak memakamkan almarhum di Batu Tulis, Bogor. Namun, sebagai penguasa Orde Baru, Soeharto berkehendak lain. Bagi Soeharto, Bogor terlalu dekat dengan Jakarta dan pemakaman Bung Karno di sana dikhawatirkan suatu hari dapat menimbulkan dampak negatif bagi Orde Baru. Soeharto juga menolak usul pemakaman Bung Karno di taman makam pahlawan di Jakarta. Blitar, nun jauh di sana, tempat asal orangtua Bung Karno, dianggap "aman" untuk memakamkan Putra Sang Fajar. Upacara pemakaman Soekarno dilaksanakan dengan sederhana dan singkat. Teks pidato pemerintah yang dibacakan Jenderal M Panggabean dibuat sedapat mungkin seimbang dalam menggambarkan kebaikan dan keburukan Bung Karno. Namun, Soeharto juga menunjukkan penghormatannya terhadap Soekarno dengan mengumumkan hari berkabung nasional, sekaligus menggelar upacara pemakaman secara militer. Dalam hal ini, Soeharto tampak sangat hati-hati dan memperhitungkan benar dampak keputusan yang diambilnya pada momentum kematian Soekarno. Soeharto sadar masyarakat masih banyak yang mengidolakan Soekarno, dan dalam kondisi seperti ini, mengontrol secara ketat proses pemakaman Soekarno dapat menimbulkan gejolak yang tidak menguntungkan. Prioritas Soeharto lebih pada upaya menghindari situasi eksplosif yang bisa muncul akibat suasana emosional di kalangan pendukung Soekarno. Dengan kata lain, Soeharto berusaha untuk mengontrol sekaligus menghormati pengaruh Bung Karno, sebuah taktik yang dipertahankan selama memimpin Orde Baru. Prediksi Soeharto akan situasi eksplosif itu cukup masuk akal. Kematian Soekarno begitu menggemparkan masyarakat. Ribuan orang berbondong-bondong untuk memberi penghormatan terakhir bagi Soekarno. Media massa memberitakan bagaimana ratusan ribu manusia menyemut di jalan-jalan yang dilalui rombongan jenazah Bung Karno dari Lapangan Udara Bugis Malang, menuju Kota Blitar, Jawa Timur. Harian Kompas (22/6/1970) menggambarkan Kota Blitar yang kecil dan sederhana mendadak sontak menjadi penuh sesak oleh manusia. Orang-orang dari berbagai daerah datang dengan menggunakan mobil, truk, angkutan umum, sepeda motor, sepeda bahkan berjalan kaki untuk menyaksikan pemakaman Soekarno. Meskipun demikian, masyarakat sesungguhnya menyambut kematian Soekarno dengan gamang. Situasi politik waktu itu membuat masyarakat tidak berani terang-terangan mengekspresikan kesedihan atas meninggalnya Soekarno. Meskipun telah diumumkan hari berkabung nasional, masyarakat Blitar baru berani mengibarkan bendera setengah tiang setelah ada instruksi dari Gubernur Jawa Timur M Noer. Mereka berani keluar rumah, bergerombol dan memperbincangkan apa yang terjadi setelah orang-orang dari luar daerah berdatangan untuk menyaksikan pemakaman Soekarno. (Kompas, 23/06/70) Suasana serupa juga terjadi di Jakarta. Warta Minggu (5/7/70) memberitakan sedikit sekali pejabat tinggi, pemimpin masyarakat, instansi atau perusahaan yang berani memasang iklan belasungkawa di surat kabar. Warta Minggu mencatat mereka yang berani memasang iklan duka cita adalah DPP PNI, DPP IPKI, Keluarga Yayasan Rehabilitasi Sosial BU NALO, Keluarga Sudarmoto Djakarta, PT Hotel Indonesia Internasional, Brigdjen H Sugandhi, DPP Djamiatul Muslimin Indonesia, DPP GMNI, Fraksi PNI DPR GR dan PPK Kosgoro. "Jang lain2 mungkin 'tidak berani' pasang iklan, atau tidak melihat keuntungannja jang njata," tulis Warta Minggu. Setelah Soekarno wafat, represi terhadap hal-hal yang berbau Soekarno justru semakin meningkat. Pada awal dekade 1970-an, diskusi tentang Bung Karno sangat dibatasi. Sebuah larangan tak resmi diberlakukan terhadap publikasi tulisan-tulisan politik Bung Karno. Nama presiden pertama Indonesia ini jarang, atau bahkan tidak pernah sama sekali, disebut-sebut oleh unsur-unsur rezim Orde Baru. Meskipun keyakinan bahwa Soekarno adalah perumus Pancasila begitu mengakar kuat dalam skema pemahaman mayoritas bangsa Indonesia, referensi yang mengaitkan Bung Karno dengan Pancasila hampir sepenuhnya diingkari oleh pemerintahan Orde Baru. Praktik desoekarnoisasi itu merupakan kontinum dari politik yang dijalankan Orde Baru pada saat-saat sebelumnya. Konsolidasi politik pasca-G30S/1965 bukan hanya dilakukan dengan membersihkan tubuh birokrasi dan militer dari unsur-unsur PKI dan simpatisannya, namun juga dari unsur-unsur soekarnois. Amputasi politik dalam skala masif dialami kalangan loyalis Soekarno di berbagai tingkatan birokrasi dan militer. Ada yang sekadar digeser posisinya, dipecat, dipenjarakan, bahkan ada yang turut dilenyapkan dalam huru-hara politik yang penuh darah itu. Lewat fusi paksa selepas tahun 1973, PNI sebagai simbol kelembagaan yang paling langsung dari Soekarno, dipaksa meleburkan diri dalam wadah yang justru lebih sempit, Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Orang-orang PNI yang masih Soekarnois tak diberi pilihan lain, bahkan teror-teror langsung dan sistematis dialami aktivis-aktivis PNI di pusat dan terutama sekali di daerah yang berusaha melakukan perlawanan. Rezim Orde Baru juga sempat melarang penggunaan gambar dan simbol Soekarno dalam kampanye Pemilu 1987, meskipun pelarangan ini terbukti tidak efektif. Pelarangan gambar Soekarno ini merupakan ekspresi permukaan dari tindakan sistematis rezim Orde Baru untuk menggunakan status legal-formalnya guna menyudahi eksistensi Soekarno sebagai ideologi dan institusi politik. Demikian juga ketika Orde Baru menghalangi usaha Rachmawati Soekarno untuk mendirikan Universitas Bung Karno tahun 1984. Yang terakhir dan paling fenomenal, rezim Orde Baru secara kasar menggusur Megawati Soekarnoputri dari pucuk pimpinan PDI tahun 1996. Pancasila dan Bung Karno Khalayak nasional pernah dibikin heboh oleh artikel berjudul Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara di Sinar Harapan, 3 Agustus 1981. Artikel ini ditulis Nugroho Notosusanto yang ketika itu sebagai Kepala Pusat Sejarah Militer ABRI. Dalam artikelnya, Nugroho menyatakan Soekarno bukan orang pertama yang merumuskan lima prinsip Pancasila. Menurut Nugroho, perumus utama Pancasila adalah Muhammad Yamin, Supomo, baru kemudian Soekarno. Peran Soekarno hanyalah dalam hal memunculkan istilah Pancasila. Bertolak dari premis ini, Nugroho juga menggugat keabsahan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Menarik untuk dicatat, premis yang merupakan reevaluasi terhadap sejarah Pancasila ini paralel dengan perubahan kebijakan rezim Orde Baru. Soeharto kemudian menghapus peringatan lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni, dan melarang semua bentuk peringatan pada tanggal itu. Meskipun menimbulkan keberatan dari berbagai pihak, rezim Orde Baru secara terang-terangan justru mengabsahkan premis Nugroho. Tahun 1982, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan artikel Nugroho itu menjadi sebuah booklet 69 halaman yang dijadikan bacaan wajib bagi para guru pengajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Ada hal yang kurang relevan dalam tulisan Nugroho. Perumusan Pancasila adalah proses sejarah yang terjadi tahun 1945, namun Nugroho menghubung-hubungkannya dengan apa yang terjadi pada dekade 1960-an. Nugroho menegaskan, generasi muda perlu diberi tahu pengalaman sejarah Orde Lama di mana ideologi marxisme-leninisme berkembang, agar mereka tidak mengulangi salah langkah pada masa itu, semata-mata hanya karena tidak tahu. Nugroho juga melihat pencabutan kekuasaan pemerintahan dari Soekarno oleh MPRS tahun 1967 adalah "faktor yang menjulang tinggi" di dalam persoalan pengamanan Pancasila dari ancaman ideologi marxisme-leninisme sebagaimana yang dimaksud oleh Ketetapan MPRS No XXV/ MPRS/1966. Selanjutnya, menurut Nugroho, penghormatan terhadap jasa-jasa Soekarno seharusnya tidak membutakan mata masyarakat terhadap "kenyataan bahwa selama zaman Orde Lama itu, Bung Karno memberikan keleluasaan bergerak kepada PKI, dan bahkan mendukung partai itu dengan menyingkirkan kekuatan-kekuatan Pancasilais yang dapat mengimbangi kaum komunis..." Perlu dipertanyakan apa relevansi ditampilkannya "tafsir" sejarah itu. Sebab Nugroho tidak sedang berbicara tentang ancaman komunisme terhadap Pancasila, atau "kesaktian" Pancasila dalam menghadapi berbagai rongrongan. Proses perumusan Pancasila notabene berhenti pada 18 Agustus 1945 ketika PPKI mengesahkan UUD 1945, dan tentu saja berbeda dengan "proses perjalanan Pancasila sebagai dasar negara". Nugroho terlalu jauh masuk dalam pembahasan tentang sepak terjang politik Soekarno sehingga sedikit keluar dari konteks bahasan lahirnya Pancasila. Di sisi lain, Nugroho juga menegaskan rumusan Pancasila 1 Juni 1945 rentan terhadap ancaman komunisme. Nugroho menunjukkan bagaimana tokoh PKI seperti DN Aidit dan Nyoto pernah menggunakan sila internasionalisme, salah satu sila dalam Pancasila rumusan 1 Juni, untuk mendukung ide-ide komunismenya. Sebuah kesimpulan yang simplistik. Legitimasi atas rumusan Pancasila 1 Juni juga datang dari berbagai pihak, dengan latar belakang dan alasan yang berbeda dengan yang diutarakan tokoh PKI tadi. Dua minggu setelah artikel Nugroho itu dimuat, Institut Soekarno-Hatta mengumumkan "Deklarasi Pancasila" yang berisi penegasan bahwa tanggal 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila. Deklarasi ini ditandatangani 17 tokoh masyarakat yang sebagian mempunyai latar belakang antikomunis. Mereka di antaranya adalah Jusuf Hasyim (pemimpin PPP), Usep Ranawijaya (pemimpin senior PDI), HR Dharsono (mantan Sekretaris Jenderal ASEAN) dan Jenderal (Purn) Hugeng. Deklarasi ini dibacakan di Monumen Soekarno-Hatta, Jalan Proklamasi Jakarta pada pukul 00.00, 17 Agustus 1981. Sebuah pemandangan yang menarik. Sejumlah tokoh dengan otoritas politik yang tinggi melakukan perlawanan simbolis terhadap seorang ahli sejarah yang baru saja menggugat sebuah versi sejarah. Kompetensi akademis dilawan secara politis. Dalam kacamata Brooks, tindakan Nugroho di atas mendapat restu pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk menciptakan "keseimbangan" perspektif tentang Soekarno. Peningkatan idealisasi terhadap Soekarno di kalangan loyalis Soekarno dan generasi muda, diimbangi dengan usaha-usaha untuk menegaskan makna penting Soekarno dalam konteks sejarah. Kebangkitan kekuatan nostalgis terhadap Soekarno dan semakin kuatnya mitos-mitos tentang Soekarno sekitar tahun 1978 cukup mengkhawatirkan Orde Baru sehingga Nugroho diinstruksikan untuk melakukan counter dengan menciptakan gambaran-gambaran yang negatif tentang Soekarno. Meskipun premis-premisnya sempat memicu kontroversi, Nugroho dipromosikan pemerintah menjadi Rektor UI tahun 1982. Setahun kemudian, Nugroho diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam jabatan yang terakhir ini, Nugroho pernah diinstruksikan Soeharto untuk merevisi pelajaran sejarah sekolah dengan menekankan instabilitas politik di era kepemimpinan Soekarno tahun 50-an. Berawal dari sinilah kemudian bermunculan konstruksi-konstruksi unfavourable tentang Soekarno dalam buku teks sejarah. Konstruksi unfavourable tentang Soekarno diidentifikasi Leigh dalam buku teks Tiga Puluh Tahun Indonesia Merdeka. Buku ini terdiri dari empat volume: volume 1 dan 2 menjelaskan sejarah era kepemimpinan Soekarno. Volume 1 (1945-1949) diawali dengan sampul foto Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dalam kacamata Leigh, foto yang memperlihatkan Soekarno sedang menundukkan pandangannya ini cenderung menafikan kharisma Soekarno. Buku ini terdiri dari 254 halaman dilengkapi dengan foto atau gambar. Namun, foto Soekarno hanya dimunculkan 14 kali dan menurut Leigh rata-rata berupa foto yang sulit diamati karena berukuran kecil atau foto dengan sudut pengambilan yang kurang tepat. Leigh membandingkannya dengan foto-foto Letkol Soeharto. Di antaranya adalah foto yang menonjolkan wajahnya, serta foto yang menunjukkan dia sedang di tengah-tengah kerumunan prajurit, yang menggambarkan peran pentingnya dalam Serangan Oemoem I Maret 1949 di Yogyakarta. Foto yang lain berupa foto sepenuh halaman Soeharto dengan para veteran perang, serta foto Soeharto dengan Sultan Yogyakarta. Foto-foto ini, menurut Leigh, memperteguh citra Soeharto sebagai militer yang bersih dan sosok pemimpin yang terpercaya. Periode 1945-1949 merupakan puncak karier Soekarno sebagai negarawan maupun politisi. Namun, eksistensi Soekarno justru dikecilkan atau dikeluarkan dari teks resmi pemerintah yang membahas sejarah periode itu. Eksklusi terhadap eksistensi Soekarno bersandingan dengan inklusi terhadap eksistensi militer di era revolusi fisik, dengan penonjolan peranan Soeharto pada momentum Serangan Oemoem 1 Maret. Satu fakta yang sangat menarik juga ditemukan Leigh dalam soal-soal ujian untuk materi sejarah tingkat sekolah dasar. Dalam soal-soal pilihan berganda itu, Soekarno ternyata banyak ditempatkan pada pilihan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan seputar Pancasila, perjuangan melawan penjajah, dan penumpasan pemberontakan pascakemerdekaan. Sebaliknya, Leigh tidak menemukan satu pun soal ujian yang menempatkan nama Soeharto dalam pilihan jawaban yang salah. Fakta ini menurut Leigh dapat berdampak buruk terhadap persepsi siswa terhadap peranan Soekarno maupun Soeharto dalam sejarah. Meminjam istilah Cornelis Lay, Soekarno bukan saja terus bertahan sebagai ideologi dan pemikiran politik, namun dari waktu ke waktu mendapatkan impor energi yang semakin besar dari kegagalan Orde Baru dalam merumuskan ideologi yang ingin mereka bangun. * Agus Sudibyo Peneliti pada Institut Studi Arus Informasi Jakarta, menulis buku Citra Bung Karno, Analisis Berita Pers Orde Baru

|  | perjalanan panjang adalah sebuah penantian menuju panjangnya perjalanan selanjutnya |

|  | Sabtu, 29 Desember 2007 kami berlima satu mobil |

|  | Desember 2007
pake Nikon D40x pinjeman
|
::pura2 jadi penyiar:: Para sahabat dan pendengar setia Radio Ndiwek yang berbahagia, Jumpa kembali kita di programa best wishes, seperti biasa di setiap tanggal 2 Desember. Tanpa terasa, perjalanan sudah lumayan panjang rupanya. Kadang lelah menerpa, namun karena berjalan bersama jadi menyenangkan. Banyak obrolan dan celaan, dan tak kurang banyaknya pula bantuan yang telah saling terbagi di antara kita. Yang paling penting, kebahagiaan sahabat dan pendengar setia semuanya senantiasa penyiar harapkan menemani perjalanan kita semua.
Terimakasih buat semua greeting beserta doa yang teriring pada noktah awal terminal, baik yang dikirimkan melalui kantor telepon maupun melalui siaran Radio Pemerintah Daerah Kabupaten Ndiwek ini.
Sementara rekan kami sedang menyiapkan lagu-lagu yang akan diputar, di studio saat ini sudah menumpuk kartu-kartu ucapan yang akan penyiar bacakan, khususnya buat: - Nozqa di Pondok Penantian: masa iya kamu akan memanggil Anna sebagai Mama? - Rahman Seblat di Gubug Derita: gimana perburuannya? kalau ndak dapat gadis pelangi, gadis citos ya bagus. asal jangan dapat mr. knox aja kan? - Rahman Jafar yang sedang kuliah: rajinlah belajar ya nak. bangsa dan negara menunggu kiprahmu. - Sabar di Terminal Tirtonadi: jaga baik2 warungnya ya. itu preman2 jangan boleh ngutang. kalau mereka ngeyel, jangan ragu2 cabut pedang. - Debi di perempatan Malioboro: tolong jagain Ario Perangsang ya. jangan digodain. itu namanya pren makan pren. - Lisa yang sedang nyepi di Padepokan RSJ Pakem: sedang ngimpi nanem pohon atau nanem Nikon? - Arie di Mbogor: wah, si Mbak jangan terlalu banyak bergaul sama orangutan ya, ntar kalau berubah jadi kingkong gimana? - Hanum di Jakarta: terus berkarya ya. - Wirday di Mbekasi (ralat: Ndepok): semoga sehat2 selalu. titip anak2 ya. kalau ada yang nakal boleh dijewer tapi jangan keras2 ya. ntar kupingnya jadi kayak bobo. - Tatta yang sedang ngambek di Semarang: kalau kamu dimanfaatin, tarik bayarannya dong... ntar bisa buat nraktir kita-kita kan? - Prof. Mer di ASU: ditunggu njegognya... tapi jasnya dibalik dulu dong... - Ella di Serpong: terimakasih atas kiriman lagunya. itu yang milih lagu si Willy ya? ini saya kirimi lagu Kucing Garong versi gambang kromong... - Pras di mana aja berada: kalau naik angkot hati-hati ya, jangan nyopet... - Indri di Jakarta: salam untuk kakakmu, semoga segera pulih kembali. - Opang di Jakarta: ini akhir pekan liburan ke mana? - Om Deny Ratulangi di Jakarta: jangan hukum aku dengan pujianmu, suhu... - Mbak Ita di Paris: terimakasih banget sudah ditelpon dari jauh... waduh, sempat kaget juga lhooo, dengar suaranya jernih sekaliiii... - Susan di peraduan: ayo mandi doong, matahari sudah tinggi... - Bebe di Philipina: have a great shooting ya, semoga filmnya digemari oleh khalayak. - Andhi di Magetan: ayo bangun dan bergerak bung. ayam jantan sudah berkokok. - Rico di TKP: ada barang baru? - Adekku Ima di mana pun berada: terimakasih atas do'amu ya Dek. kita sama2 percaya bahwa Allah swt selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk kita. ambil hikmahnya ya Dek, jangan surut semangat perjuanganmu. - Mbak Irina di Pondok Keraguan: boleh tidak kalau cerpenmu diterbitkan di sini? - Mas Ciput di Pondok Persimpangan: nggak bosen ke Padang melulu Mas? mbok sekali2 peteng... - Mbak Triana yang sibuk dengan bantal cinta: salam buat Hito ya. - Yainal yang Pondok Kerinduan: ya, trimakasih salamnya. semoga gagasan bisa segera direalisasikan. - Hida yang sedang di Jakarta: nanti malam "diusahakan" dengan baik ya. salam buat mas Amir. - Stan di Laut Merah: nggak bosen lautnya merah melulu? tolong dicat kuning doong... - Mbak Rini : terimakasih ucapan selamatnya ya Mbak. salam untuk Fadhil dan seluruh keluarga. - Eriq yang baru pulang dari Workshop: tambah ilmu ya Riq? semoga segera bisa jadi menteri, ya minimal dirjen deeeh... - Mas Hangtuah di Warbun: ada diskon berapa untuk bengkelnya ya Mas? - Mas Jaka di Pekanbaru: titip salam buat kopi Kim Teng ya... - Mbak Jahewangi di Magelang: gimana Mbak jualan jahenya di Medan? kayaknya kelarisan ya? - Sigit yang sedang dibajak di Bali: motret artis ato motret "sumur" di Kuta to Mas Sigit? - Wiwit di Mbantul: sibuk momong Vari atau momong bapaknya nih? - Mbak Etty di Kelapa Gading: ayo, kapan jadi mampir sama Aura? - Gabby Schroeder in Holland: kalau mau nengok kota kelahiranmu Surabaya, bisa ngajak saya sebagai guide. - tak lupa buat ponakan2 yang manis dan lucu, iiE dan Luki: rukun-rukun selalu dengan pasangan masing-masing ya. jangan ketuker... - horeee, barusan terima pesan dari Ibu Presiden yang sedang kampanye keliling dunia: terimakasih Bu, amanat Ibu akan kami laksanakan. saya ndak njiplak lho... - buat Kak Monike, Pritha, Wira, Wiwin, Mas Bambang, Puji, Vera, dan Alya... di manapun berada: terimakasih, terimakasih, terimakasih...
serta salam manis buat semua saja yang sudah kirim salam. semoga persahabatan antar pendengar Radio Ndiwek semakin terjalin erat. sinambi nyruput kopi dan menikmati nyamikan pisang goreng, tahu dan tempe bacem, penyiar ucapkan selamat menikmati lagu berikut ini. monggo... sekali di udara, tetap bercelana!
I hear the drizzle of the rain, like a memory it falls soft and warm continuing, tapping on my roof and walls…  gambar dipinjam secara semena-mena dari sini
Hari Sabtu tanggal 1 Desember jam 6.35 sore. Sebuah nomor asing berpendar memperdengarkan suara yang sudah terlalu lama jauh dari ruang memori. Kowe neng ngendi? Di rumah. Kamu? Aku di Bulevar. Mampir po’o… OK. Tolong alamat rumahmu. Jam 7 malam, kereta Senja Utama bergerak malas ke Gambir. Tak hampir separuh, pun gerbong itu berisi manusia. Hari itu, aku meninggalkan ibuku di rumah dalam kondisi yang belum benar-benar sehat. Ini stroke ke-3 kalinya sejak tiga tahun silam. Ketika wisuda setengah bulan yang lalu, ibu tak bisa menemani katarsisku membebaskan diri dari sebuah dunia bernama kampus yang telah kudiami selama delapan tahun. Ia terbaring lemah di tempat perawatan yang putih bersih. Sukurlah, adik sudah pindah ke Jogja dari tempat kerjanya yang lama di Magelang, menjadi pegawai negeri. Jadi ia bisa menunggui ibu dalam sakitnya, setelah giliranku pergi. Keputusan itu harus kuambil. Berat memang, tapi harus, bila aku tak mau berkubang lebih lama dalam belitan persoalan yang tak pernah berganti rupa. Sekalipun aku sadar bahwa aku akan bergerak dari sebuah ketidakpastian ke ketidakpastian berikutnya, aku yakin ketidakpastian yang kujelang ini harus lebih tinggi kualitasnya. Sebab hidup ini adalah sebuah spiral. Melintasi koordinat yang sama dalam konteks tempat dan jaman yang berbeda.
Masih terngiang isak tangisnya di telepon ketika menerima kiriman gaji pertamaku, sebulan berikutnya. Terbata-bata nyaris tak mengatakan apa-apa, selain getaran do’a yang kuterima langsung dari hatinya… Maka di sinilah aku dalam kereta Senja Utama, menggenggam sisa beasiswa dari céprétan tahi kuku kumpeni minyak bumi. Hari itu tanggal 1 Desember jam 7 malam. I am just a poor boy though my story seldom told I’ve squandered my resistance for a pocketful of mumbles, such are promises All lies and jest, still a man hears what he wants to hear and disregards the rest, Hmmmm... Bersama Ngén. Lalu 10 jam obrolan sepanjang rel tentang romansa, dekonstruksi, pembebasan, politik, filsafat, dan teori-teori kehidupan yang kebanyakan kau karang sendiri. Seperti yang biasanya kita obrolkan melintasi malam di angkringan, warung mi instan, atau kantin fakultas. Juga 7 hasil coretan pada bloknote, yang secara naif kunamakan puisi. Dan beberapa waktu kemudian kau bikin lagu. Aku selalu suka caramu memetik gitar, dan menembang ala Benyamin Sueb yang sekenanya, sebebasnya. Seperti orang ngobrol bernada, katamu. And so you see I have come to doubt All that I once held as true I stand alone without beliefs, the only truth I know is you And as I watch the drops of rain, weave their weary paths and die I know that I am like the rain There but for the grace of you go I Kau bilang perjalanan kita ini adalah perjalanan menemui Tuhan, sebab Dia lah yang berkuasa atas nasib. Dan kita sedang mencoba merebutnya, nasib kita, yang disandera wadyabala Rahwana Raja. Masih ingat kau, Ngén, puisi profetis tentang Timika yang kita bikin di Balsem? Dan puisi rindu yang kutuliskan di rumahmu, setelah kita kekenyangan mengganyang sayur lodéh dan ikan layur asin goréng masakan ibu? Puisi yang disukai kolega-kolega saat kau nyanyikan di panggung kantor, katamu. Kabar ibu sehat, ceritamu menimpali ceritaku tentang ibu yang telah wafat tujuh tahun lalu. Jam 7 malam, persis waktu keberangkatan kita dari stasiun Tugu. Kereta berangkat tepat waktu, seperti mengerti hasrat kita yang memburu ingin segera bertempur di belantara Jakarta. Ngén, pesan apa yang kau bawa di detik kristalisasi kemauan kita, pada pertemuan kembali setelah lima tahun tak jumpa? She said there is no reason, and the truth is plain to see That I wandered through my playing cards, and would not let her be One of sixteen vestal virgins who were leaving for the coast And although my eyes were open, they might just as well have been closed. And so it was later, as the miller told his tale, That her face at first just ghostly, turned a whiter shade of pale...
Sudah barang tentu ini bukan kebetulan semata. Duabelas tahun Ngén, and we are as plain as they can see…

|  | pics by mas Tjah |

|  | Rabu 17/10/07Kemarin kami sudah janjian dengan Mas Tjah dan Mbak Ita (menantu dan anak dari bapak angkatku) untuk hunting ke kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Kota Gede. Hasilnya silakan dinikmati di bawah ini. Kami berangkat pukul 9 pagi langsung ke kompleks pemakaman yang ternyata tidak hanya berisi pusara dan nisan saja, tetapi juga terdapat situs pemandian para putra dan putri keluarga kerajaan, serta Masjid Besar Mataram. Selagi asik motret pagar kompleks, ada seorang penduduk yang memberi tahu kami bahwa di arah barat (belakang) makam terdapat banyak bangunan kuno khas Kota Gede yang keren untuk menjadi obyek pemotretan. Maka, kami berempat segera bergegas menuju lokasi yang ditunjukkannya, yang ternyata tidak sedekat yang kami perkirakan. Wah, ternyata bener, banyak obyek yang menarik untuk jadi ajang narsis. Di sebuah gang yang sempit, ada sebuah tembok memanjang yang hanya memiliki sebuah rolling door alumunium. Tetapi ketika pintu itu terbuka, wow, di dalamnya terdapat semacam kompleks rumah khas Kota Gede. Menurut Pak Bambang pemiliknya, rumah itu dibangun tahun 1844 dan dimiliki oleh kakek mertuanya sebelum dibelinya tahun 1994. Di seputar lokasi hunting masih banyak terdapat obyek lain yang bagus. Tetapi secara nanti masih ada agenda kopdar dengan MPers Jogja dan sekitarnya, maka acara hunting dengan terpaksa disudahi jam 14. Kami berdua datang ke Dixie Cafe pukul 16. Wah, senang sekali akhirnya bisa ketemu dengan Pakdhe Yo, dan lain-lain. Secara Niken hanya ngambil 1 foto keluarga, foto2 yang lainnya bisa dilihat di: http://jejakkakiku.multiply.com/photos/album/79http://walah.multiply.com/photos/album/67http://laalaalaa.multiply.com/photos/album/54/Kamis 18/10/07Karena mobil harus kembali ke bengkel, maka dari jam 9 sampai jam 14 aku kembali menunggui aktivitas perbaikan, sementara Niken pergi berburu NG lawas di Shopping Center, sekaligus belanja bekal perjalanan balik ke Jakarta nanti sore. Pada pukul 16 kami berangkat dari rumah untuk menempuh perjalanan selama 13 jam ke Bogor via Bandung-Puncak, dan mampir menginap sehari semalam di rumah kakak Niken di Bogor Raya.
original version all pictures are taken by Niken except: -Njedid & Riang Gembira by brecs -Sang Permaisuri, Setia & Jendela Sederhana by Mas Tjah |
| |