Brécs' posts with tag: sedjarah

|  | tugu pembebasan irian barat lapangan banteng jakarta |
 this guy teaches fiddling at Taman Suropati Menteng, Jakarta every Sunday 11am-2pm. Happy birthday Ki Hajar Dewantara. pic by niken on canon 400D

|  | cap go meh petak sembilan glodok 24 feb 08
pic by brecs, niken, mas tjah |
"Tidak pernah ada bukti ilmiah dalam sejarah, terjadinya peperangan yang disebabkan oleh agama. Perang, selalu disebabkan oleh hasrat kekuasaan politik maupun ekonomi. Dan sejauh menyangkut hasrat kekuasaan, hal itu selalu, selalu berakar pada EGOISME."
-Sukarno, 1953
Disadur dari tulisan
Agus Sudibyo
Berulang kali rezim Orde Baru berusaha memadamkan pengaruh Soekarno. Hubungan antara Orde Baru dengan Soekarno memang hubungan yang menarik. Sejak awal kepemimpinannya, Soeharto memandang faktor Soekarno sebagai ancaman bagi legitimasi kekuasaannya. Soeharto bukan hanya memaksa Soekarno untuk turun dari kekuasaan, namun juga menggusur kekuatan-kekuatan soekarnois dari panggung pemerintahan dan militer. Uniknya, setelah Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, situasi tidak semakin membaik bagi Orde Baru. Jasad yang tak berdaya itu justru meninggalkan pengaruh yang semakin merepotkan Orde Baru. Soekarno sebagai institusi politik, ideologi dan sebagai dramatic-person dalam memori kolektif bangsa Indonesia seakan-akan menjadi hantu yang membuat penguasa Orde Baru tak pernah tidur nyenyak. Maka tak henti-hentinya dilakukan usaha untuk memutus mata rantai pengaruh Soekarno dalam kehidupan birokrasi, militer, serta dalam kehidupan masyarakat. Segala sesuatu yang berbau Soekarno selalu dicurigai, ditekan, bahkan kalau perlu diberangus. Rezim Orde Baru secara sistematis dan kontinu menggunakan perangkat-perangkat kekuasaannya untuk melakukan apa yang disebut sebagai desoekarnoisasi. Karantina politik Soekarno meninggal dalam status tahanan rumah. Sungguh tragis nasib Sang Proklamator ini di pengujung hidupnya. Ia digiring dalam sebuah karantina politik, diasingkan dari berbagai hal yang membuatnya merasa bermakna, yakni anak-istri, teman seiring, pengikut-pengikut setia, kerumunan massa dan pidato-pidato yang menggairahkan. Bahkan, untuk sekadar menyalurkan hobi berjalan-jalan dan membaca surat kabar pun Soekarno sempat tak diizinkan. Seperti yang telah diwasiatkan almarhum, keluarga Soekarno hendak memakamkan almarhum di Batu Tulis, Bogor. Namun, sebagai penguasa Orde Baru, Soeharto berkehendak lain. Bagi Soeharto, Bogor terlalu dekat dengan Jakarta dan pemakaman Bung Karno di sana dikhawatirkan suatu hari dapat menimbulkan dampak negatif bagi Orde Baru. Soeharto juga menolak usul pemakaman Bung Karno di taman makam pahlawan di Jakarta. Blitar, nun jauh di sana, tempat asal orangtua Bung Karno, dianggap "aman" untuk memakamkan Putra Sang Fajar. Upacara pemakaman Soekarno dilaksanakan dengan sederhana dan singkat. Teks pidato pemerintah yang dibacakan Jenderal M Panggabean dibuat sedapat mungkin seimbang dalam menggambarkan kebaikan dan keburukan Bung Karno. Namun, Soeharto juga menunjukkan penghormatannya terhadap Soekarno dengan mengumumkan hari berkabung nasional, sekaligus menggelar upacara pemakaman secara militer. Dalam hal ini, Soeharto tampak sangat hati-hati dan memperhitungkan benar dampak keputusan yang diambilnya pada momentum kematian Soekarno. Soeharto sadar masyarakat masih banyak yang mengidolakan Soekarno, dan dalam kondisi seperti ini, mengontrol secara ketat proses pemakaman Soekarno dapat menimbulkan gejolak yang tidak menguntungkan. Prioritas Soeharto lebih pada upaya menghindari situasi eksplosif yang bisa muncul akibat suasana emosional di kalangan pendukung Soekarno. Dengan kata lain, Soeharto berusaha untuk mengontrol sekaligus menghormati pengaruh Bung Karno, sebuah taktik yang dipertahankan selama memimpin Orde Baru. Prediksi Soeharto akan situasi eksplosif itu cukup masuk akal. Kematian Soekarno begitu menggemparkan masyarakat. Ribuan orang berbondong-bondong untuk memberi penghormatan terakhir bagi Soekarno. Media massa memberitakan bagaimana ratusan ribu manusia menyemut di jalan-jalan yang dilalui rombongan jenazah Bung Karno dari Lapangan Udara Bugis Malang, menuju Kota Blitar, Jawa Timur. Harian Kompas (22/6/1970) menggambarkan Kota Blitar yang kecil dan sederhana mendadak sontak menjadi penuh sesak oleh manusia. Orang-orang dari berbagai daerah datang dengan menggunakan mobil, truk, angkutan umum, sepeda motor, sepeda bahkan berjalan kaki untuk menyaksikan pemakaman Soekarno. Meskipun demikian, masyarakat sesungguhnya menyambut kematian Soekarno dengan gamang. Situasi politik waktu itu membuat masyarakat tidak berani terang-terangan mengekspresikan kesedihan atas meninggalnya Soekarno. Meskipun telah diumumkan hari berkabung nasional, masyarakat Blitar baru berani mengibarkan bendera setengah tiang setelah ada instruksi dari Gubernur Jawa Timur M Noer. Mereka berani keluar rumah, bergerombol dan memperbincangkan apa yang terjadi setelah orang-orang dari luar daerah berdatangan untuk menyaksikan pemakaman Soekarno. (Kompas, 23/06/70) Suasana serupa juga terjadi di Jakarta. Warta Minggu (5/7/70) memberitakan sedikit sekali pejabat tinggi, pemimpin masyarakat, instansi atau perusahaan yang berani memasang iklan belasungkawa di surat kabar. Warta Minggu mencatat mereka yang berani memasang iklan duka cita adalah DPP PNI, DPP IPKI, Keluarga Yayasan Rehabilitasi Sosial BU NALO, Keluarga Sudarmoto Djakarta, PT Hotel Indonesia Internasional, Brigdjen H Sugandhi, DPP Djamiatul Muslimin Indonesia, DPP GMNI, Fraksi PNI DPR GR dan PPK Kosgoro. "Jang lain2 mungkin 'tidak berani' pasang iklan, atau tidak melihat keuntungannja jang njata," tulis Warta Minggu. Setelah Soekarno wafat, represi terhadap hal-hal yang berbau Soekarno justru semakin meningkat. Pada awal dekade 1970-an, diskusi tentang Bung Karno sangat dibatasi. Sebuah larangan tak resmi diberlakukan terhadap publikasi tulisan-tulisan politik Bung Karno. Nama presiden pertama Indonesia ini jarang, atau bahkan tidak pernah sama sekali, disebut-sebut oleh unsur-unsur rezim Orde Baru. Meskipun keyakinan bahwa Soekarno adalah perumus Pancasila begitu mengakar kuat dalam skema pemahaman mayoritas bangsa Indonesia, referensi yang mengaitkan Bung Karno dengan Pancasila hampir sepenuhnya diingkari oleh pemerintahan Orde Baru. Praktik desoekarnoisasi itu merupakan kontinum dari politik yang dijalankan Orde Baru pada saat-saat sebelumnya. Konsolidasi politik pasca-G30S/1965 bukan hanya dilakukan dengan membersihkan tubuh birokrasi dan militer dari unsur-unsur PKI dan simpatisannya, namun juga dari unsur-unsur soekarnois. Amputasi politik dalam skala masif dialami kalangan loyalis Soekarno di berbagai tingkatan birokrasi dan militer. Ada yang sekadar digeser posisinya, dipecat, dipenjarakan, bahkan ada yang turut dilenyapkan dalam huru-hara politik yang penuh darah itu. Lewat fusi paksa selepas tahun 1973, PNI sebagai simbol kelembagaan yang paling langsung dari Soekarno, dipaksa meleburkan diri dalam wadah yang justru lebih sempit, Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Orang-orang PNI yang masih Soekarnois tak diberi pilihan lain, bahkan teror-teror langsung dan sistematis dialami aktivis-aktivis PNI di pusat dan terutama sekali di daerah yang berusaha melakukan perlawanan. Rezim Orde Baru juga sempat melarang penggunaan gambar dan simbol Soekarno dalam kampanye Pemilu 1987, meskipun pelarangan ini terbukti tidak efektif. Pelarangan gambar Soekarno ini merupakan ekspresi permukaan dari tindakan sistematis rezim Orde Baru untuk menggunakan status legal-formalnya guna menyudahi eksistensi Soekarno sebagai ideologi dan institusi politik. Demikian juga ketika Orde Baru menghalangi usaha Rachmawati Soekarno untuk mendirikan Universitas Bung Karno tahun 1984. Yang terakhir dan paling fenomenal, rezim Orde Baru secara kasar menggusur Megawati Soekarnoputri dari pucuk pimpinan PDI tahun 1996. Pancasila dan Bung Karno Khalayak nasional pernah dibikin heboh oleh artikel berjudul Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara di Sinar Harapan, 3 Agustus 1981. Artikel ini ditulis Nugroho Notosusanto yang ketika itu sebagai Kepala Pusat Sejarah Militer ABRI. Dalam artikelnya, Nugroho menyatakan Soekarno bukan orang pertama yang merumuskan lima prinsip Pancasila. Menurut Nugroho, perumus utama Pancasila adalah Muhammad Yamin, Supomo, baru kemudian Soekarno. Peran Soekarno hanyalah dalam hal memunculkan istilah Pancasila. Bertolak dari premis ini, Nugroho juga menggugat keabsahan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Menarik untuk dicatat, premis yang merupakan reevaluasi terhadap sejarah Pancasila ini paralel dengan perubahan kebijakan rezim Orde Baru. Soeharto kemudian menghapus peringatan lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni, dan melarang semua bentuk peringatan pada tanggal itu. Meskipun menimbulkan keberatan dari berbagai pihak, rezim Orde Baru secara terang-terangan justru mengabsahkan premis Nugroho. Tahun 1982, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan artikel Nugroho itu menjadi sebuah booklet 69 halaman yang dijadikan bacaan wajib bagi para guru pengajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Ada hal yang kurang relevan dalam tulisan Nugroho. Perumusan Pancasila adalah proses sejarah yang terjadi tahun 1945, namun Nugroho menghubung-hubungkannya dengan apa yang terjadi pada dekade 1960-an. Nugroho menegaskan, generasi muda perlu diberi tahu pengalaman sejarah Orde Lama di mana ideologi marxisme-leninisme berkembang, agar mereka tidak mengulangi salah langkah pada masa itu, semata-mata hanya karena tidak tahu. Nugroho juga melihat pencabutan kekuasaan pemerintahan dari Soekarno oleh MPRS tahun 1967 adalah "faktor yang menjulang tinggi" di dalam persoalan pengamanan Pancasila dari ancaman ideologi marxisme-leninisme sebagaimana yang dimaksud oleh Ketetapan MPRS No XXV/ MPRS/1966. Selanjutnya, menurut Nugroho, penghormatan terhadap jasa-jasa Soekarno seharusnya tidak membutakan mata masyarakat terhadap "kenyataan bahwa selama zaman Orde Lama itu, Bung Karno memberikan keleluasaan bergerak kepada PKI, dan bahkan mendukung partai itu dengan menyingkirkan kekuatan-kekuatan Pancasilais yang dapat mengimbangi kaum komunis..." Perlu dipertanyakan apa relevansi ditampilkannya "tafsir" sejarah itu. Sebab Nugroho tidak sedang berbicara tentang ancaman komunisme terhadap Pancasila, atau "kesaktian" Pancasila dalam menghadapi berbagai rongrongan. Proses perumusan Pancasila notabene berhenti pada 18 Agustus 1945 ketika PPKI mengesahkan UUD 1945, dan tentu saja berbeda dengan "proses perjalanan Pancasila sebagai dasar negara". Nugroho terlalu jauh masuk dalam pembahasan tentang sepak terjang politik Soekarno sehingga sedikit keluar dari konteks bahasan lahirnya Pancasila. Di sisi lain, Nugroho juga menegaskan rumusan Pancasila 1 Juni 1945 rentan terhadap ancaman komunisme. Nugroho menunjukkan bagaimana tokoh PKI seperti DN Aidit dan Nyoto pernah menggunakan sila internasionalisme, salah satu sila dalam Pancasila rumusan 1 Juni, untuk mendukung ide-ide komunismenya. Sebuah kesimpulan yang simplistik. Legitimasi atas rumusan Pancasila 1 Juni juga datang dari berbagai pihak, dengan latar belakang dan alasan yang berbeda dengan yang diutarakan tokoh PKI tadi. Dua minggu setelah artikel Nugroho itu dimuat, Institut Soekarno-Hatta mengumumkan "Deklarasi Pancasila" yang berisi penegasan bahwa tanggal 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila. Deklarasi ini ditandatangani 17 tokoh masyarakat yang sebagian mempunyai latar belakang antikomunis. Mereka di antaranya adalah Jusuf Hasyim (pemimpin PPP), Usep Ranawijaya (pemimpin senior PDI), HR Dharsono (mantan Sekretaris Jenderal ASEAN) dan Jenderal (Purn) Hugeng. Deklarasi ini dibacakan di Monumen Soekarno-Hatta, Jalan Proklamasi Jakarta pada pukul 00.00, 17 Agustus 1981. Sebuah pemandangan yang menarik. Sejumlah tokoh dengan otoritas politik yang tinggi melakukan perlawanan simbolis terhadap seorang ahli sejarah yang baru saja menggugat sebuah versi sejarah. Kompetensi akademis dilawan secara politis. Dalam kacamata Brooks, tindakan Nugroho di atas mendapat restu pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk menciptakan "keseimbangan" perspektif tentang Soekarno. Peningkatan idealisasi terhadap Soekarno di kalangan loyalis Soekarno dan generasi muda, diimbangi dengan usaha-usaha untuk menegaskan makna penting Soekarno dalam konteks sejarah. Kebangkitan kekuatan nostalgis terhadap Soekarno dan semakin kuatnya mitos-mitos tentang Soekarno sekitar tahun 1978 cukup mengkhawatirkan Orde Baru sehingga Nugroho diinstruksikan untuk melakukan counter dengan menciptakan gambaran-gambaran yang negatif tentang Soekarno. Meskipun premis-premisnya sempat memicu kontroversi, Nugroho dipromosikan pemerintah menjadi Rektor UI tahun 1982. Setahun kemudian, Nugroho diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam jabatan yang terakhir ini, Nugroho pernah diinstruksikan Soeharto untuk merevisi pelajaran sejarah sekolah dengan menekankan instabilitas politik di era kepemimpinan Soekarno tahun 50-an. Berawal dari sinilah kemudian bermunculan konstruksi-konstruksi unfavourable tentang Soekarno dalam buku teks sejarah. Konstruksi unfavourable tentang Soekarno diidentifikasi Leigh dalam buku teks Tiga Puluh Tahun Indonesia Merdeka. Buku ini terdiri dari empat volume: volume 1 dan 2 menjelaskan sejarah era kepemimpinan Soekarno. Volume 1 (1945-1949) diawali dengan sampul foto Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dalam kacamata Leigh, foto yang memperlihatkan Soekarno sedang menundukkan pandangannya ini cenderung menafikan kharisma Soekarno. Buku ini terdiri dari 254 halaman dilengkapi dengan foto atau gambar. Namun, foto Soekarno hanya dimunculkan 14 kali dan menurut Leigh rata-rata berupa foto yang sulit diamati karena berukuran kecil atau foto dengan sudut pengambilan yang kurang tepat. Leigh membandingkannya dengan foto-foto Letkol Soeharto. Di antaranya adalah foto yang menonjolkan wajahnya, serta foto yang menunjukkan dia sedang di tengah-tengah kerumunan prajurit, yang menggambarkan peran pentingnya dalam Serangan Oemoem I Maret 1949 di Yogyakarta. Foto yang lain berupa foto sepenuh halaman Soeharto dengan para veteran perang, serta foto Soeharto dengan Sultan Yogyakarta. Foto-foto ini, menurut Leigh, memperteguh citra Soeharto sebagai militer yang bersih dan sosok pemimpin yang terpercaya. Periode 1945-1949 merupakan puncak karier Soekarno sebagai negarawan maupun politisi. Namun, eksistensi Soekarno justru dikecilkan atau dikeluarkan dari teks resmi pemerintah yang membahas sejarah periode itu. Eksklusi terhadap eksistensi Soekarno bersandingan dengan inklusi terhadap eksistensi militer di era revolusi fisik, dengan penonjolan peranan Soeharto pada momentum Serangan Oemoem 1 Maret. Satu fakta yang sangat menarik juga ditemukan Leigh dalam soal-soal ujian untuk materi sejarah tingkat sekolah dasar. Dalam soal-soal pilihan berganda itu, Soekarno ternyata banyak ditempatkan pada pilihan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan seputar Pancasila, perjuangan melawan penjajah, dan penumpasan pemberontakan pascakemerdekaan. Sebaliknya, Leigh tidak menemukan satu pun soal ujian yang menempatkan nama Soeharto dalam pilihan jawaban yang salah. Fakta ini menurut Leigh dapat berdampak buruk terhadap persepsi siswa terhadap peranan Soekarno maupun Soeharto dalam sejarah. Meminjam istilah Cornelis Lay, Soekarno bukan saja terus bertahan sebagai ideologi dan pemikiran politik, namun dari waktu ke waktu mendapatkan impor energi yang semakin besar dari kegagalan Orde Baru dalam merumuskan ideologi yang ingin mereka bangun. * Agus Sudibyo Peneliti pada Institut Studi Arus Informasi Jakarta, menulis buku Citra Bung Karno, Analisis Berita Pers Orde Baru

|  | Rabu 17/10/07Kemarin kami sudah janjian dengan Mas Tjah dan Mbak Ita (menantu dan anak dari bapak angkatku) untuk hunting ke kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Kota Gede. Hasilnya silakan dinikmati di bawah ini. Kami berangkat pukul 9 pagi langsung ke kompleks pemakaman yang ternyata tidak hanya berisi pusara dan nisan saja, tetapi juga terdapat situs pemandian para putra dan putri keluarga kerajaan, serta Masjid Besar Mataram. Selagi asik motret pagar kompleks, ada seorang penduduk yang memberi tahu kami bahwa di arah barat (belakang) makam terdapat banyak bangunan kuno khas Kota Gede yang keren untuk menjadi obyek pemotretan. Maka, kami berempat segera bergegas menuju lokasi yang ditunjukkannya, yang ternyata tidak sedekat yang kami perkirakan. Wah, ternyata bener, banyak obyek yang menarik untuk jadi ajang narsis. Di sebuah gang yang sempit, ada sebuah tembok memanjang yang hanya memiliki sebuah rolling door alumunium. Tetapi ketika pintu itu terbuka, wow, di dalamnya terdapat semacam kompleks rumah khas Kota Gede. Menurut Pak Bambang pemiliknya, rumah itu dibangun tahun 1844 dan dimiliki oleh kakek mertuanya sebelum dibelinya tahun 1994. Di seputar lokasi hunting masih banyak terdapat obyek lain yang bagus. Tetapi secara nanti masih ada agenda kopdar dengan MPers Jogja dan sekitarnya, maka acara hunting dengan terpaksa disudahi jam 14. Kami berdua datang ke Dixie Cafe pukul 16. Wah, senang sekali akhirnya bisa ketemu dengan Pakdhe Yo, dan lain-lain. Secara Niken hanya ngambil 1 foto keluarga, foto2 yang lainnya bisa dilihat di: http://jejakkakiku.multiply.com/photos/album/79http://walah.multiply.com/photos/album/67http://laalaalaa.multiply.com/photos/album/54/Kamis 18/10/07Karena mobil harus kembali ke bengkel, maka dari jam 9 sampai jam 14 aku kembali menunggui aktivitas perbaikan, sementara Niken pergi berburu NG lawas di Shopping Center, sekaligus belanja bekal perjalanan balik ke Jakarta nanti sore. Pada pukul 16 kami berangkat dari rumah untuk menempuh perjalanan selama 13 jam ke Bogor via Bandung-Puncak, dan mampir menginap sehari semalam di rumah kakak Niken di Bogor Raya.
original version all pictures are taken by Niken except: -Njedid & Riang Gembira by brecs -Sang Permaisuri, Setia & Jendela Sederhana by Mas Tjah |

|  | Rumahku itu rumah jiwa seperti rumah merpati terbuka untuk setiap manusia hinggap dan pergi
Rumah Jogja ini adalah rumah warisan Ibu kami. Kecil saja, ukuran tanahnya sekitar 180m persegi. Ada 4 kamar plus 1 kamar yang rada dipaksain keberadaannya di "lantai 2" yang tak berdinding di satu sisi.
Dulu sebelum gempa tampangnya jelek sekali. Dinding luarnya belum dilapis semen halus seperti sekarang ini. Bentuknya masih seperti losmen kelas melati, kamar-kamar berderet di sisi kiri dan tak kenal warna cat sama sekali. Memang sudah menjadi niat kami untuk merenovasi, tetapi tahun-tahun berlalu dan tak kunjung terealisasi.
Hingga akhirnya Allah mengirim tanda untuk mengingatkan, agar niat kami segera dimanifestasikan. 27 Mei 2006, saat matahari baru saja menembus malam. Meskipun agak terguncang hati melihat reruntuhan, saat itu kami tersadar bahwa rumah kami memang sudah perlu perbaikan. Maka dengan segenap kekuatan dan keterbatasan, gotong royong pun kami lakukan.
Setelah 2 bulan si adik dan keluarganya bertenda di jalan, rumah itu pelan-pelan berubah penampakan. Sungguh mengharukan, dua orang teman di India dan Serbia ikut mengulurkan tangan. Terimakasih Ashish Talwar dan Andreja Vradzalic, yang memungkinkan rumah ini menjadi monumen persahabatan.
Jadilah sekarang rumah mungil yang cantik, warnanya merah tanpa metalik. Si adik memang agak nyentrik, meskipun dia gak suka memakai akik. Pernah kubelikan baju batik, maksudku agar penampilannya lebih simpatik.
Anyway, rumah itu malah jadi unik, warnanya takada yang menyamaik.... |
Pah, apa sih arti namaku yang panjang ini? tanyaku suatu hari.
Ini adalah hari ke 572 kami hidup di rumah extended family ibu, di kampung Baciro. Di situ hidup tiga orang nenekku dan 1 orang kakek. Jangan salah sangka, dua orang nenekku itu sudah lama hidup menjanda. Mereka tidak punya anak, dan menganggap ibuku sebagai anak kesayangan semata wayang. Selain karena ibuku manis lemah lembut, terutama karena ia sudah tinggal bersama mereka sejak kecil setelah ibunya, nenek kandungku, wafat karena tetanus. Satu pasang kakek nenek, adik kakek kandungku, yang tinggal di situ punya tiga anak, 2 wanita dan satu laki-laki yang 5 bulan lebih muda dariku.
Ditambah dengan 5 orang anggota keluargaku dan dua orang mahasiswa indekos, rumah tua yang gentingnya bocor di sana-sini itu kini harus menampung 14 jiwa. Sebuah rumah kuno peninggalan buyutku, terbuat dari papan kayu jati dipadu kayu sawo di bagian depan, dan anyaman bambu di tiga perempat bagian belakangnya. Luasnya sekitar 350m2 berlantai tanah. Umurnya mungkin sudah lebih dari 90 tahun saat itu, setua kampung di mana rumah itu berdiri di tepi sebuah gang sempitnya. Seperempat luas tanah kampung itu dulu milik buyutku, sebab kakek buyut adalah salah satu pionir yang membuka kampung itu.
Sebagai pensiunan pegawai PNKA, kakek kandungku beserta nenek sambung dan 5 anaknya tinggal di kompleks, 500 meter di seberang rel ke utara sana. Sesungguhnya, aku lebih ingin tinggal di sini, sebab rumahnya bertembok tebal ala bangunan kolonial dan aku merasa lebih terlindungi. Namun soalnya adalah dengan si nenek. Cerita-cerita tentang kekejaman nenek tiri itu kepada ibuku, telah sering aku dengar. Tapi perasaan kanak-kanakku lebih sering tak terbendung: aku lebih suka menghabiskan waktu di sini.
Betul-betul perubahan yang drastis. Beberapa tahun kemudian setelah aku di kelas 2 SMP, baru terasa kedahsyatannya. Ceritanya bermula dari suatu siang...
"Mas mau kan pindah ke rumah Pakdhe Darso ini?" tanya ibuku. "Mengapa aku harus pindah ke sini Bu?" [ ..... ] "Mas harus pindah ke sini agar bisa terus sekolah, karena Papah dan Ibu harus bekerja di tempat lain." "Ndak mau," kataku. "Mas mau sama Ibu." "Kalau Mas di sini, nanti Mas bisa belajar sama Mas Hari, supaya tambah pinter. Nanti Ibu dan Papah pasti datang menengok Mas setiap bulan..." "Mas mau di sini asalkan sama Ibu," air mataku jatuh, satu satu. "Mas cuma mau sama Ibu." Mata Ibu nampak kembeng-kembeng bening tapi tak meluruh... "Kalau Mas sama Ibu, Mas ndak bisa melanjutkan sekolah..." "Ndak apa-apa, Mas ndak usah sekolah. Mas mau jualan es saja bantuin Ibu," aku mengeras seiring air mata yang kian deras.
Aku benar-benar tak tahu apa rencana orang-orang dewasa itu terhadap diriku. Tapi waktu itu, bagiku Purworejo sungguh bukanlah kota yang menarik. Purworejo yang tanah tumpah darah papahku itu terasa asing, tak nampak gerak hidupnya. Sepi dan kelam, sekalipun aku tinggal dan dibesarkan di sebuah desa di tepian barat kota Jogja, yang hingga 6 bulan sebelumnya belum kenal listrik. Kami nonton televisi, satu-satunya yang ada di desa itu, beramai-ramai di rumah seorang teman yang punya accu sebagai sumber tenaganya. ::kalau Mohammad Ali sedang bertanding, wah, seluruh dunia rasanya mengkerut menjadi beberapa gerombol saja:: Sekalipun keluargaku termasuk kaya untuk ukuran desa, tapi televisi belum menjadi prioritas papahku. Begitu pula rumah sekaligus toko, yang berstatus kontrakan. Di saat teman-teman sebayaku masih membayangkan bahwa sebuah pesawat terbang harus berputar-putar seperti gasing sebelum akhirnya melayang ke angkasa, aku sudah dua kali menaikinya, Jakarta-Palembang pp. Dan rumahku masih kontrakan. ::ahh... Tuhan memang satiris sejati::
Aku bergaul dengan koran, komik, sepeda, sawah, jengkerik, bukit, sendang, dan para sopir dan kernet angkutan umum. Ya, toko kami persis di seberang terminal desa yang terletak di sisi selatan pasar. Dan penerangan rumah kami masih pakai stromking dan lampu minyak tanah yang ditiup mati oleh Ibu atau Papah, setelah aku dan kedua adikku melengkung di tempat tidur jam 7 malam. Mungkin kau tak percaya. Saat teman-teman sebayaku di TK Kudup Sari masih asyik jethungan, belajar menyanyi, menggambar benang ruwet, dan mèwèk, aku sudah membaca Kedaulatan Rakyat atau Kompas langganan papahku, dan menulis latin. Masuk SD, kalau Papah tidak sedang keluar kota, mulai jam 4 sore adalah waktu wajib bagiku untuk menghadapi kertas putih di dinding, yang bertuliskan daftar perkalian dari 1 x 1 hingga 10 x 10, sejam tak kurang. Di bawah kertas itu adalah papan tulis besar tempat Papah menuliskan soal-soal perkalian dan pembagian yang harus kuselesaikan secepatnya. Otherwise, rentetan dampratan bahkan, kalau aku ngèyèl, gagang kemocèng akan mendarat berat di pantatku.
Yang lucu, aku benar-benar tak suka ketika Ibu menyuruhku berangkat ke sekolah dengan bersepatu. Sungguh, aku merasa menjadi badut ketika itu, padahal selama 2 tahun di TK aku bersepatu, yang terbagus di desaku. Itu terjadi waktu aku di kelas 5. Tak ada satu pun kawan-kawan satu sekolah yang bersepatu, semua nyèkèr. Dan semua mata memandangku dengan penuh keajaiban. Tak tahan aku. Maka, umur sepatu itu cuma sehari bisa menginjak lantai kelasku. Besoknya, dan besok-besoknya lagi, aku harus beradu belas kasihan dengan Ibu agar bisa lolos dari kewajiban yang menyebalkan itu. Aku cuma ingin nampak tak berbeda dari mereka. Bila Ibu tak bisa kululuhkan hatinya, aku pakai sepatu tolol itu sampai ke pagar sekolah, dan kupakai lagi begitu bel pulang berbunyi. Tentu setelah menunggu semua kawan hilang dari pandangan.
Lima bulan lalu, di rumah kami nongol sebuah benda yang kami idam-idamkan: televisi! ::Horreee....:: Setiap sore, teman-teman yang sebaya berkumpul di rumahku dan dengan setia menunggu film-film kartun Hongkong Power, Scoobydoo, Captain Caveman. Setiap Minggu siang, yang kami tunggu kalau nggak film Rin Tin Tin atau Combat, ya Little House on the Prairie. Bagiku, yang paling ajaib adalah acara pukul 9 malam: Dunia Dalam Berita! Sebuah kotak yang mengagumkan. Aku tahu luasnya dunia darinya.
Akhirnya keputusan itupun tiba ketika rapor kenaikan kelas baru kemarin dibagikan, dan aku naik ke kelas enam dengan nilai tertinggi di seluruh desa. Tiba-tiba semua barang di rumahku mulai diangkuti, entah ke mana. Meja makan, kompor buatan mendiang Mbah Randim, ranjang, mesin cetak hand press, mainan machine gun besarku, sepatu roda. Juga lemari-lemari toko, yang barang dagangannya juga sudah entah di mana. Tak sampai seminggu kemudian, kami semua sudah berkumpul di Baciro, bersama para nenek dan kakek, dan para bulik dan om.
::serba membingungkan, tapi kepolosan kanak-kanakku lebih mendominasi::
::Ima, you are the inspiration, and the trigger! IOU for this::
Sebagai anak baru, aku ditimpa rasa minder yang luar biasa hebat. Meskipun aku juara di desa, tapi perlakuan anak-anak kota yang-percaya-dirinya-jauh-lebih-besar-dari-kapasitas-otak-mereka itu sangat menghambat pertumbuhan mentalku yang sedang dilanda trauma. Minggu pertamaku di kelas 6 SDN di kawasan Balapan itu, mereka mengolok-olok seorang monyet yang masuk kota. ::oh ya, entah dari mana, mereka tahu cerita legendaris tentang bersekolah nyèkèr, tanpa alas kaki itu:: Minggu kedua, mereka mengejek-ejek namaku yang seperti nama perempuan. Minggu ketiga, tas sekolahku dimasuki pepaya busuk. Belum pernah aku dileceh-lecehkan seperti ini.
Aku, anak keluarga terhormat!
Minggu ke-empat, seorang anak kelas B yang badannya jauh lebih besar, mencegatku di jalan sepulang sekolah dan menghantam wajahku tanpa alasan. Minggu ke-enam, aku kalahkan mereka di lomba kasti karena mereka tak pernah bisa ngembat bola kasti ke tubuhku. Bulan berikutnya, kulayani tantangan seorang kawan sekelas untuk berkelahi. Sebulan sesudahnya, aku kalahkan mereka semua dalam Cerdas Cermat antar siswa kelas 6. Semenjak saat itu, pandangan meremehkan itu mulai menghilang. Sebagian berubah menjadi iri, sebagian lagi menyublim menjadi pertemanan yang tulus, dan sebagian besar abstain. Bu Ersy walikelasku bahkan hadir melayat Papah sebelas tahun kemudian.
Setelah kelulusan, kubuktikan lagi bahwa aku pantas berada dalam jajaran elit intelektual kotaku. Tes masuk ke 3 buah SMP Negeri favorit berhasil kujebol dengan baik. Maka aku terdaftar sebagai murid di SMP paling favorit di kotaku, bersama [hanya!] 7 anak lainnya dari 108 anak lulusan SDku. Sialnya, kebanyakan murid-murid di SMP itu berasal dari keluarga berada. Ini kenyataan yang sangat memukul; memaksaku untuk berulang-ulang memutar memori tentang kejayaan keluargaku. Dan setiap hari aku harus bergulat dengan khayalan seandainya Papah tidak jatuh bangkrut, ketika setiap kali aku melihat anak-anak lain jajan dengan enteng, bersepatu-dan-tas bagus, bersepeda motor, atau diantar-jemput. Dan aku, aku harus puas dengan sepatu Warrior yang trepes dan bolong di jempol karena kupakai jalan pergi-pulang ke rumah setiap hari, kadang tanpa sangu sepeserpun.
Aku menjadi pemurung, ugal-ugalan, malas belajar. Di sekolah aku bergaul di lingkungan anak-anak yang hanya perlu menjentikkan jari ketika menginginkan sesuatu ::mirip denganku setahun lalu::, dan ketika kembali ke rumah aku harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang diametral.
Dari realitas yang saling bertabrakan inilah muncul benih-benih ketidakpercayaanku kepada Papah. Aku beranggapan bahwa ia tidak kompeten, sekalipun dia pernah tunjukkan bahwa nilai fisika dan matematikanya selama sekolah tak pernah di bawah 9! Dan sesungguhnya Papah memang cerdas. Ia pandai menggambar, pemikir, dan kreatif mengolah berbagai macam hal menjadi bermanfaat. Di kampungku, Papah jugalah yang suatu saat nanti menjadi pelopor diadakannya berbagai lomba dalam rangka tujuhbelasan secara lebih meriah, karena ia bisa menggerakkan gotong-royong penduduk kampung secara lebih luas. Karenanya, hadiah-hadiah yang tersedia pun sangat menarik. Rakyat menjadi antusias mengikuti rangkaian acara tujuhbelasan. Belum pernah peringatan tujuhbelasan di kampungku bisa semeriah itu. Namun dalam perannya sebagai seorang ayah, kecerdasan dan kreativitasnya seakan tak bekerja sebagaimana yang kudambakan.
***
Waktu itu, Papah, Ibu, dan adik bungsu sudah dua tahun tinggal di Tanjung Karang, menumpang di keluarga seorang eyang dari pihak Ibu. Ya, selang tiga bulan setelah kami pindah ke Baciro, Papah memboyong Ibu dan adik bungsu ke sana. Jadi ketika masuk SMP, aku pergi mendaftar sendiri, belajar sendiri, pergi tes sendiri. Sepeda miniku yang biru itu mengantarkan dan menjadi saksi keberhasilanku.
Aku tumbuh dalam sepi. Aku menyirami hari dengan senandung rindu.
Dalam kurun waktu itu, Papah bekerja sebagai buruh pemetik cengkih sampai ke Pulau Nias, jualan hasil bumi, menjadi sopir, hingga bisa memiliki sendiri sebuah mobil angkutan kota. ::nantinya di ujung masa, sebuah pengkhianatan lain telah menunggu::
Asap rokok mulai akrab dengan hari-hariku sejak kelas 2 SMP. Pergaulanku mulai tak keruan, suka membolos pada waktu pelajaran pilihan bebas saban Sabtu, dan berkelahi. Aku tumbuh menjadi jagoan bangsat kecil. Di awal semester kedua, kami berenam nglurug ke SMP Negeri lain di kawasan Terban. Itu terjadi setelah seorang guru kami diserempet oleh gerombolan sepeda motor mereka, di depan sekolah kami. SMP itu memang terkenal sebagai musuh bebuyutan sekolah kami. Walhasil, kami berenam nyaris tak naik kelas... Itupun kami sudah mati-matian mencoba meyakinkan guru BP, bahwa tindakan kami itu adalah untuk membela kehormatan sekolah. Kami nggak mau sekolah yang kami cintai ini dilecehkan!
Bersama rembulan, yang mengantarkan percik hujan asam menerobos sela genteng ke dasar jiwa.
Aku semakin terkenal sebagai si badung. Namun dalam seluruh catatan sejarah kenakalanku, ada satu hal yang secara sadar selalu, dan selalu berhasil, kuhindari: drugs! Dan aku betul-betul bangga karenanya. ***
Di kelas 2 ini, entah ada monyet cinta menyambar darimana, Shan, seorang gadis cantik kawan sekelas ::yang secara diam-diam juga kutaksir :p ::, sekonyong-konyong menyatakan rasa sukanya kepadaku melalui sepucuk surat yang dia titipkan kepada sahabatnya. Oh, di ceruk terdalam masa kerendahan-diriku, ada putri cantik yang naksir aku? ::Tuhan memang benar-benar aneh becandanya::
Shan, rambutmu yang panjang berombak seperti bercumbu dengan angin semilir aku selalu membayangkan dirimu adalah Farah Fawcet si gadis bionik pujaanku
Anyway, segera setelah itu, ::yippiiiii...:: parfum jasmin Ibu sisa kejayaan masa lampaunya, habis di lembaran-lembaran surat balasan yang kuberikan kepada Shan secara sembunyi-sembunyi, nyaris setiap hari sepulang sekolah! Dan dampratan pula lah yang kudapatkan dari Ibu... :D***
Menjelang aku naik ke kelas 2 SMP itu, Papah memutuskan untuk kembali ke Jogja, dan memulai lagi usaha entertainment. Karenanya, ia berusaha menjual mobil angkutannya dengan dititipkan kepada kernet yang selama ini setia menemaninya. Sang kernet memberikan sebuah skuter sebagai jaminan. Tunggu punya tunggu, hingga 4 bulan berikutnya sang kernet tak pernah menampakkan diri lagi. Pun sia-sia usaha Papah menjelajahi pelosok-pelosok Lampung. Tersiar kabar bahwa setelah menjual mobil, sang kernet kawin lagi dan lari-entah-ke-mana dengan istri barunya. Akhirnya, Papah terpaksa pulang ke Jogja dan memulai bisnisnya dengan sisa penjualan skuter butut. Dan Tuhan menakdirkan Papah wafat saat berada di Tanjung Karang ::mungkin karena saking dongkolnya kepada sang kernet::.
Di kelas 2 SMP ini aku mendapatkan sahabat-sahabat yang hingga kini masih kekal terjalin. Di masa ini pula aku mengenal seorang yang di mana-mana selalu mengaku sebagai sahabat-bahkan-saudaraku, tetapi akhirnya terbukti sebagai pengkhianat adanya. Seorang yang berhati paling keji yang pernah kutemui dalam hidupku, ternyata menyertai hidupku selama belasan tahun hingga kami selesai kuliah nanti.
***
Sejak kepulangannya dari Lampung, hubunganku dengan Papah tak jarang berujung di pertengkaran. Dalam suasana yang serba kekurangan, Papah nampak menjadi semakin temperamental. Di sisi lain, aku sedang beranjak ke arah keremajaanku. Dengan berbagai cara, aku mulai menuntut agar dipercaya mengatur diri sendiri, sementara Papah semakin tak mempercayai semua orang. Aku mulai membutuhkan biaya-biaya tambahan, sedangkan Papah nyaris tak mampu menyanggupinya. Maka di ujung pertengkaran itu acap kali aku minggat ke rumah Budhe, kakak perempuan Papah, di Langenastran Kidul. Kadang-kadang, kalau sudah tak betah dengan dampratan Papah, malam-malam pun aku jalan kaki sendiri ke sana. Tak satu kali pun Papah pernah mencoba mencariku.
Pernah suatu ketika muncul kesadaranku akan situasi serba terbatas itu, aku minta ijin kepada Ibu untuk nyambi bekerja di sebuah percetakan atas ajakan teman. Namun Ibu tak pernah mengijinkanku. "Mas kan masih Esempe, belum waktunya bekerja. Biarlah Papah dan Ibu yang mengusahakan agar Mas dan adik-adik tetap bisa bersekolah..." "Tapi Bu, kita kan banyak membutuhkan biaya tambahan. Mas kasihan sama Ibu, harus bangun pagi-pagi buta dan..." "Itu memang sudah tanggung jawab Ibu. Mas masih ingat kan, apa yang Mas katakan waktu itu di rumah Pakdhe Darso? Jadi, bantulah Ibu dengan mengerjakan hal-hal yang biasa Mas kerjakan setiap hari. Itu sudah sangat cukup buat Ibu."
Aku diberi tanggungjawab -waktu itu kuberi nama siksaan- pekerjaan rumah tangga yang cukup berat untuk ukuran anak SMP. Setiap sore, aku harus menimba untuk mandi Ibu dan adik-adik ::huh, aku tak sudi menimba untuk Papah, sekiranya pun ia menyuruhku:: dan menyirami tanaman, halaman, dan lantai rumah ::oh ya, sampai lulus SMA, rumah yang kutempati ini masih berlantai tanah. dan kau harus tahu, yang namanya menyirami tanaman itu berarti mengusap setiap lembar daun dengan kain basah. setiap helainya::. Dua atau tiga hari sekali aku mencuci pakaianku sendiri dan pakaian adik-adik, sekaligus menyetrikanya. Kelak waktu SMA, Papah menambah beban tugas mencuci dan menyetrika itu dengan pakaian Ibu dan Papah.
Ibu menyambung rejeki dengan berjualan kayu, arang, dan masakan rumahan, meneruskan warung nenek di rumah Baciro itu pula. Sayur lodeh, kering tempe, tumis kangkung, terik tahu-tempe-telor, tempe goreng, srundeng, adalah menu masakan wajib. Penghasilan yang hanya beberapa ::tak sampai sepuluh:: ribu rupiah sehari. Pun kadang-kadang muncul pula kenakalanku. Kalau sudah tak kuasa menahan hasrat untuk merokok, aku ambil uang Ibu tanpa sepengetahuannya, sekedar untuk bisa membeli sebatang GG Filter. Itu berarti, besok paginya Ibu harus ngutang untuk belanja agar bisa jualan.
::Ah, Ibuku yang malang... Ampunilah anakmu ini::
By Norman D. Livergood
The US
invasion of Iraq
to loot its oil and politically restructure the Middle
East, is part of a policy of military
imperialism that the American and British ruling circles have been engaged in
for several centuries. The American revolution was fought to bring the United
States under new, non-British
rulers, with the new regime sold to the public as a democracy. Beginning in the
twentieth century, these American ruling elites have revolved around the
Rockefeller, Brown, Harriman, and Morgan family dynasties. The Bush family,
beginning with Prescott Bush, have served as satraps of the Rockefeller, Brown,
and Harriman interests.
As we’ve seen, in earlier articles on these
imperialistic rulers (Part 1, Part 2), the British and American ruling cabal
decided that the energy of choice for the world would be oil and natural gas
(not coal) –just as the drugs of choice would be alcohol and tobacco.
To overcome the problem of his oil holdings being
broken apart by the US
government in 1911, John Rockefeller set out to control the world’s energy
reserves. World War I was the strategy of the world oil cartel (Standard,
Shell, British Petroleum) to take over the colonies of France,
Holland, Spain
and Portugal.
The engines of war now ran on petroleum-based products, so ownership of oil
could determine who won or lost a war –therefore who would rule the world. Oil,
instead of gold, became the token of power.
By 1919, the Oil Empire, not based on countries or
nations, but on private corporations, ruled the world.
The Big Three oil cartel, which controlled oil in
the Persian Gulf
and southeast Asia areas, wanted to gain control over the vast oil reserves in
the southern part of the Soviet Union.
They financed the fascist regimes in Germany,
Italy,
and Japan
with the hope that they would invade and control Russia.
The Oil Rulers planned to defeat the German, Italian, and Japanese regimes and
take control of the oil reserves in the Soviet
Union. The Rockefeller circle also planned to take
control of Persian Gulf
oil from the British-Persian Oil cartel and seize control of southeast Asian
oil from Royal Dutch Shell.
The United
States was brought into the
second world war when in July 1941, President Roosevelt signed an embargo to
stop all shipping to Japan.
This was said to be in retaliation for the Japanese invasion of French
Indo-China. Roosevelt’s
US
embargo cut off the Japanese oil supply, which would have quickly shut down Japan’s
entire economy. In late November 1941 the Japanese sent a written “war warning”
through diplomatic channels to Washington,
demanding that the embargo be stopped, or else American sites in the Pacific
would be attacked in retaliation. That formal diplomatic warning was ignored
and the US
made no reply. Just two weeks later the Japanese bombed the American embargo
ships located in Pearl Harbor.
In 1939 and ‘40, the Germans and Italians did not
attack Russia
as the Big Three had planned. Instead, German General Rommel rushed across North
Africa to grab the Suez
Canal and control all oil shipping through the canal.
Rommel then planned to drive through to Persia
and toss out the British from the British-Persian oil fields. Meanwhile, after
a failed attack on Russia
in 1939, the Japanese swept through Southeast Asia
and seized all the oil holdings of Royal Dutch Shell. With the defeat of Japan
in 1945, most of those Royal Dutch fields came under the control of Rockefeller’s
Standard Oil.
Hitler had planned to capture the oil fields in Romania
by 1939 so Germany
would have its own supply of oil. This was accomplished. Then Rommel was to
have captured the oil fields in Persia
by 1941, the oil fields in Russia
in 1942. Only then would Hitler have sufficient fuel for prosecuting a war with
the United States.
But less than a week after the Pearl Harbor
attack, the Japanese convinced Hitler to declare war on the United
States. Hitler agreed only if
the Japanese would attack Russia,
since German troops were now bogged down in Russia
and Hitler would gain strategic advantage if the Russians had to defend
themselves from Japan
on their eastern flank. When the Japanese failed to attack Russia,
Hitler was driven out of Russia
and now was without a fuel source. The Romanian oil fields in Ploesti
were insufficient for Germany
to carry on a war on two fronts, and Germany’s
war effort began to collapse.
The last major German campaign was the Battle
of the Bulge, in which Field Marshal Gerd von Rundstedt was to attack the
invading allies with his tanks, then capture the Allied fuel dumps. This would
stop the American and British forces and obtain the necessary fuel for Germany
to continue its war effort. But General Eisenhower ordered the Allied fuel
dumps burned and Germany
was defeated.
At the end of World War II, the British-Persian
Oil Company controlled the vast oil fields in Iran.
The Persians had declared their alignment with Adolf Hitler’s Nazi “Aryan Race”
movement and were fully expecting German General Rommel to come rushing across Africa
and “free” them from the British. They had even proclaimed their alignment with
Hitler by changing the name of their country from Persia
to “Aryan,” (or “Iran”
in the Farsi language), but the Germans failed to save them.
To take control of Persian
Gulf oil from the British, in 1954 Kermit Roosevelt,
nephew of Franklin,
led an American CIA coup to take control of Iran
and place in power the American-backed Shah of Iran. The Shah expelled the
British, and Rockefeller’s Standard Oil now had control of the British-Persian
petroleum fields.
In the early 1950s, Occidental Petroleum’s Armand
Hammer, a satrap of the Rockefellers, negotiated a deal with Russian dictator
Joseph Stalin to buy his oil –thus effectively stealing it from the Russian
people. Russian oil was then sold on the world market at a much higher price
than Stalin could get by marketing it himself, because few countries were willing
to buy oil from Stalin.
Occidental Petroleum and Russia
built two large pipelines, from the Russian oil fields down along both sides of
the Caspian Sea,
terminating in the old British-Persian –now Standard Oil– oil fields in Iran.
For the next 45 years, Russia
secretly sent its oil out through those pipelines and Standard Oil sold the oil
on the world market at the “West Texas Crude” price by calling it Iranian oil.
For almost fifty yeas most Americans have been using Russian oil in their cars.
Standard Oil refineries, which produce gasoline
from crude oil, are located at large sea ports like San
Francisco, Houston
or Los Angeles,
not near any of the large American oil fields. Most oil from the Persian
Gulf is shipped in oil tankers to those large American
refinery-ports.
In 1979, the Standard Oil-backed Shah of Iran was
thrown out by a British-backed coup and the long-time British asset, Ayatollah
Khomeini, put into power. The flow of Russian oil through Iran
suddenly stopped. Other oil pipelines were constructed through Iraq
and Turkey.
The Russian oil was now called OPEC Arabian-Middle Eastern oil and marketed at
the even higher “spot market” price. So in 1979, in America
and Europe, we suddenly
experienced gasoline shortages and huge increases in the price of gasoline.
Also in 1979 Standard Oil-Russian oil interests tried to secure an alternate,
short, safe oil pipeline route from Russia through neighboring Afghanistan, but
this only resulted in a prolonged war and the project was abandoned.
When the new British-controlled regime in Iran
came into power, the Rockefeller-influenced US
government immediately threatened to seize $7.9 billion of Iranian assets
located in the US
On November 4, 1979
Iranian “terrorists” captured and held hostage 65 Americans. Essentially,
Standard Oil was being blackmailed by the hostage strategy. After lengthy
negotiations, the Rockefeller-created President Jimmy Carter approved the
electronic transfer of 7.9 billion dollars from US
accounts to the Iranian regime on January 20, 1981.
On Wednesday
January 27, 1988, as announced in the Wall Street
Journal, Standard Oil merged with British Petroleum. This actually represents
Standard Oil’s buyout of British Petroleum, the name of the newly merged
company being BP-America. The Wall Street Journal did not see fit to mention
worries about the world-wide predatory marketing practices of a deceptively
titled Standard Oil regime.
During the last 13 years, BP-America has merged
with, or controls, all of the old Standard Oil “mini-companies” which existed
before the original breakup by the US
government in 1911. The new Standard Oil regime is now known as BP-AMOCO, and
few people in the world realize what has happened. It’s now possible to understand
why British Prime Minister Blair has become the spokesman for the new wars
against terrorism (actually the war for Caspian
Sea and Iraq
oil).
At the end of WWII, General Douglas MacArthur
became the military Governor of Japan. MacArthur’s assistant was Laurence
Rockefeller, one of John D. Rockefeller’s four grandsons. As the second world
war was drawing to a close, the US
was preparing for a massive invasion of the Japanese home islands.
The military had stockpiled vast supplies of weapons
and munitions on the island
of Okinawa.
Some sources claim that with Vice-governor Laurence Rockefeller’s assistance
most of the armaments were sold to the leader of Vietnam,
Ho Chi Minh, for something like one US dollar and Ho’s “goodwill.” One might
wonder why these expensive and critical military supplies were “given” to the
North Vietnamese.
To answer that question we have to go to an almost
unknown study in the 1920’s prepared by a man named Herbert Hoover, later to
become President of the United
States. The study showed that
one of the world’s largest oil fields ran along the coast of the South
China Sea right off French Indo-China, now known as Vietnam.
This was before offshore drilling had been invented and before a man named George
Herbert Walker Bush was to become the CEO of a world-wide offshore drilling
company.
In 1945, Vietnam
was still a colony of the French. Laurence Rockefeller, it appears, had given
the extensive store of weapons to Ho Chi Minh with the hope that Vietnam
would drive out the French so that Standard Oil would be able to take over the
as yet undeveloped offshore fields. In 1954, Vietnamese General Giap finally
defeated and drove out the French at Dien Bien Phu
with weaponry provided by the US.
However, Ho Chi Minh reneged on the deal since he could read too, and he was
well aware of the Hoover
resource report and knew there was a vast supply of oil off the Vietnamese
coast.
“In the 1950’s a method of undersea oil
exploration was perfected which used small explosions deep in the water and
then recorded the sound echoes bouncing off the various layers of rock below.
The surveyor could then determine the exact location of the arched salt domes
which hold the accumulated oil beneath them. But if this method were used off
the Vietnam coast on property Standard didn’t own or have the rights to, the
Vietnamese, the Chinese, the Japanese and probably even the French would
quickly run to the United Nations and complain that America was stealing the
oil, and that would shut down the operation.
”In 1964, after Vietnam was divided into North and
South, and the contrived Gulf of Tonkin incident, several US aircraft
carriers were stationed offshore of Vietnam and the ‘war’ was started. Every
day jet planes would take off from the carriers, bomb locations in North and South
Vietnam, and then using normal
military procedure when returning would dump their unsafe or unused bombs in
the ocean before landing back on the carriers. Safe ordnance drop zones were
designated for this purpose away from the carriers.
“Even close-up observers would only notice many
small explosions occurring daily in the waters of the South
China Sea and thought it was only part of the ‘war’. The
US Navy carriers had begun Operation Linebacker One, and Standard Oil had
begun its ten year oil survey of the seabed off of Vietnam.
And the Vietnamese, Chinese and everybody else around, including the Americans,
were none the wiser. The oil survey hardly cost Standard Oil a nickel, the US
taxpayers paid for it.” (Marshall Douglas Smith, 2001, Black Gold Hot
Gold, Ch. 3).
So twenty years later and 57,000 Americans and half a million
Vietnamese dead, Standard Oil had enough data and the war in Vietnam could end.
Nelson Rockefeller’s personal assistant, Henry Kissinger, represented the US
at the Vietnam/Paris Peace talks and won a Nobel Peace Prize in the bargain.
After the dust had settled from the war, Vietnam
divided their offshore coastal area into numerous oil lots and allowed foreign
companies to bid on the lots, with the proviso that Vietnam
got a percentage of the action. Norway’s
Statoil, British Petroleum, Royal Dutch Shell, Russia,
Germany
and Australia
all won bids and began drilling within their areas. Strange it was that none of
them struck oil. However, the lots which Standard Oil bid for and won proved to
have vast oil reserves. Their extensive undersea seismic research appears to
have paid off.
Unfortunately, Big Oil’s greed has not abated a
whit. The American and British rulers have a new imperialistic strategy
by which they hope to gain total control of the world’s energy supplies and the
strategic Eurasian land mass. First, they sell armaments to a regime (for
example, Panama,
Iraq,
Yugoslavia/Kosovo, Afghan/Pakistan/Taliban
Mujaheddin, Saudi Arabia).
Then, they demonize the regime to which they sold the armaments and declare war
on it (e.g. Panama Invasion, Gulf War, UN Kosovo war, Afghanistan
war, Iraq War). After the war, they station permanent military bases in the
country and use the military bases to control the energy resources in the
surrounding countries. Current US
foreign policy is governed by the doctrine of “full-spectrum dominance”: the US
must control military, economic and political developments everywhere.
“If you want to rule the world, you need to
control oil. All the oil. Anywhere.” (Monopoly, by Michel Collon).
This new strategy began with the Panama invasion,
next created the so-called Gulf War, continued with the UN-sanctioned war in
the Balkans, and now expands with the new wars against terrorism (Afghanistan,
the Philippines, Iraq, and beyond). On January 20, 2001, Defense Secretary
Donald Rumsfeld said that he was willing to deploy US
military forces in “another 15 countries” if that is what it takes to combat
terrorism. The reason the so-called “war against terrorism” began in Afghanistan
is because it is critical to the US-British rulers’ plans to control the Caspian
Sea area oil and gas.
The UN-sanctioned war in the Balkans was all about
oil and the pipeline easement for Caspian Sea
oil to Western European markets through Kosovo to the Mediterranean
Sea. When Yugoslavia
refused to play ball with the International Monetary Fund, the US
and Germany
began a systematic campaign of destabilization, even using some of the veterans
of Afghanistan
in that “war”. Yugoslavia was broken up into compliant statelets, and the
former Soviet Union was contained. The outcome: the de facto US
occupation of Kosovo –where America
built its largest military base since the Vietnam War.
The Caspian Sea
area has proven oil reserves of fifteen to twenty-eight billion barrels plus
estimated reserves of 40-178 billion, a total of 206 billion barrels –16 percent
of the earth’s potential oil reserves (compared to Saudi’s 261 billion barrels
of oil and America’s
own 22 billion barrels). Even at today’s low prices, that could add up to $3
trillion in oil. With the Saudi regime tottering –an aging king about to die,
widespread internal corruption creating calls for revolutionary overthrow– and a
new source of oil and gas in the Caucasus, the Standard Oil suzerainty is
looking to create a new regime in Saudi Arabia and develop a new center of
operations in Southern Asia –think Iraq.
The huge oil and gas reserves in the Caspian
Sea must either be moved west to European markets or
south to Asian markets. The western route is to move oil from Chechnya,
across the Black Sea
and through the Bosporus
to the Mediterranean,
but the narrow Bosporus
channel is already clogged with oil tankers from the Black
Sea oil fields. An alternate route would be to move
the tankers from the Black Sea,
bypassing the Bosporus,
up the Danube
River
and then through a very short pipeline across Kosovo to the Mediterranean
at Tirana, Albania.
However, that process was stopped by the Chinese who have supplied and armed
the Albanians, as a client state, since 1949.
The other difficulty with the western route is
that Western Europe
is a tough market, characterized by high prices for oil products, an aging
population, and increasing competition from natural gas. Furthermore, the
region is fiercely competitive, now being serviced by oil from the Middle
East, the North Sea,
Scandinavia,
and Russia.
Western Europe
is not a very attractive market, because substantial infrastructure would have
to be developed to bring that oil from the Caspian to an already
overly-competitive European market.
The only other ways to get Caspian
Sea oil and gas to Asian markets is through China,
which is too long a route, or through Iran,
which is politically and economically inimical to US-Standard Oil objectives.
As soon as the Soviets discovered the vast Caspian
Sea oil fields in the late 1970’s, they attempted to
take control of Afghanistan
to build a massive north-south pipeline system to allow the Soviets to send
their oil directly through Afghanistan
and Pakistan
to the Indian Ocean
seaport. The result was the decades long Soviet-Afghan war. The Standard
Oil-influenced U.S.
government saw the danger of a Russian north-south pipeline and the CIA trained
and funded armed terrorist groups, including Osama bin Laden, who defeated the
Soviets in the late 1980’s.
The Russians then tried to control the flow of oil
and gas through its monopoly on pipelines. The Southern Asian Republics of the
former Soviet Union
–Turkmenistan,
Kazakhstan,
Uzbekistan,
Tajikistan
and Kyrgyzstan–
saw through this Russian monopolistic ploy and began to consult with Western
companies.
The Standard Oil-influenced US
government now plans to thrust further along the 40th parallel from the Balkans
through these Southern Asian Republics of the former Soviet
Union. The US
military has already set up a permanent operations base in Uzbekistan.
The so-called anti-terrorist strategy is clearly designed to simultaneously
consolidate control over Middle Eastern and South Asian oil, and contain and
neutralize the former Soviet Union.
With that strategy, Afghanistan
is exactly where they need to be.
Russia,
realizing its weaker position vis-a-vis
the United States,
has been making noises as if it fully agreed with the US
incursions in Afghanistan.
But Russia
has joined the Shanghai Cooperation Organization (SCO) which includes China,
Russia,
Kazakhstan,
Kyrgyzstan,
Tajikistan
and Uzbekistan.
China
is using the SCO to try to align Russia
economically and politically towards China
and northeast Asia. Russia’s
membership in the SCO is an attempt to maintain its traditional hegemony in Central
Asia. The underlying rationale of the SCO is the
control of its members’ enormous reserves of oil and gas.
Despite the misgivings of Russia,
China,
India,
or any other nation, Afghanistan
and Iraq
will now become the base of operations in destabilizing, isolating, and
establishing control over the South Asian regimes and the Middle-East. [Note
that Iran
stands between Iraq
and Afghanistan
and you can understand why bush included Iran
in the “Axis of Evil.”] After the conquest of this area is complete and the
permanent military posts are set up, they will begin construction of a pipeline
through Turkmenistan,
Afghanistan,
and Pakistan
to deliver petroleum to the Asian market.
UNOCAL, the spearhead for Standard Oil interests,
has been trying to build the north-south pipeline through Afghanistan
and Pakistan
to the Indian Ocean
for several decades. In 1998, the California-based UNOCAL, which held 46.5
percent stakes in Central Asia Gas (CentGas), a consortium that planned an
ambitious gas pipeline across Afghanistan,
withdrew in frustration after several fruitless years. The pipeline was to
stretch 1,271 km from Turkmenistan’s
Dauletabad fields to Multan
in Pakistan
at an estimated cost of $1.9 billion. An additional $600 million would have
brought the pipeline to energy-hungry India.
In the spring of 2001, |
|