Brécs' posts with tag: touches

|  | Sabda tinggal di Mbogor Vero tinggal di Samarinda Nadya tinggal di Mbandung |

|  | ibu sepuh ini jualan kerupuk kemplang di depan klenteng meskipun tlah renta, ia tetap mengandalkan keringatnya sendiri ia tak melata, ia tak menadahkan tangan ia menjaga harkat kemanusiaannya
hujan sempat deras di Petak Sembilan. setelah hujan usai, ia bilang, "itu matahari sudah muncul lagi. ayo sana, motret lagi..." seolah-olah tahu bahwa kamera butuh matahari... :) 24 Feb 08
pic by niken Eos 400D, tamron 28-300mm
pic by mas tjah Nikon D80, sigma 18-125mm
|
Suatu sore, Sang Bijak Bestari sedang berdiri bersandar pada sebelah kanan tiang pintu pagar rumahnya. Barangkali ia sedang merumuskan kata-kata yang tepat buah perenungannya.
Lama ia di situ, sampai muncul seseorang yang tergopoh-gopoh berlari menuju ke arahnya, lalu menemuinya dan memohon, "Tolong, aku dikejar-kejar banyak orang yang mau membunuhku."
Sang Bijak berkata, "Silakan masuk dan berlindung di dalam rumahku."
Setelah itu, Sang Bijak pindah posisi berdirinya. Ia kini bersandar pada sisi kiri tiang pintu pagar. Beberapa detik kemudian, muncullah serombongan orang gusar dengan pedang-pedang teracung tinggi. Mereka menghampiri Sang Bijak. "Sang Bijak, apakah barusan engkau melihat seseorang berlari di sekitar sini? Ia telah mencuri hartaku, dan ia harus dibunuh sekarang juga!" ketua kabilah meradang.
Sang Bijak berkata, "Sejak aku berdiri di sini, tak kulihat seorang pun melintas di depan rumahku."
Kerumunan gusar itu berlalu melanjutkan pencarian mereka, dan Sang Bijak masuk ke rumah untuk menemui orang yang dilindunginya. "Benarkah yang dituduhkan oleh ketua kabilah, bahwa engkau telah mencuri hartanya?" "Wahai Sang Bijak, benar aku telah mencuri harta ketua kabilah. Aku tak punya uang sepeserpun untuk memberi makan istri dan dua orang anakku." "Jika demikian, marilah kuantarkan engkau ke pengadilan. Hakim akan memutuskan yang terbaik untukmu." "Tapi aku takut orang-orang itu akan membunuhku sebelum sampai di pengadilan..." "Jangan khawatir, engkau dalam perlindunganku, sebelum dan sesudah engkau diadili."
Dan pengadilan memutuskan bahwa orang itu harus diampuni dan layak mendapatkan santunan.
::dituliskan ulang berdasarkan sebuah buku yang judulnya sudah terlupa::
dari milis tetangga: Semoga dapat jadi inspirasi bagi kita semua..... When we'll have a Leader like him.... ?? =============================== Tuhan mencintai siapa yang merendah dalam kehidupan pribadinya!
TV Fox (AS) menanyakan pada Presiden Iran, Ahmadi-Najad; "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: 'Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran'."
Berikut adalah bagaimana penyiar menggambarkan dirinya.
Ahmadi-Najad, adalah presiden Iran yang membuat orang ternganga, karena pada saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang sangat tinggi nilai maupun harganya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresif.
Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.
Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang kepadanya dan menteri-menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya. Arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri-menterinya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri-menteri tersebut berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
Langkah pertamanya ketika menduduki kursi kepresidenan adalah mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimiliki seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan.
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan pesawat terbang kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sudah dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.
Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar yang tidak terlalu besar dan tanpa tempat tidur karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.
Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal-pengawalnya yang selalu mengikuti ke manapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto-foto yang diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk Amerika.
Di waktu sholat berjamaah, anda dapat melihat bahwa ia tidak selalu duduk di baris paling muka.

|  | Rumahku itu rumah jiwa seperti rumah merpati terbuka untuk setiap manusia hinggap dan pergi
Rumah Jogja ini adalah rumah warisan Ibu kami. Kecil saja, ukuran tanahnya sekitar 180m persegi. Ada 4 kamar plus 1 kamar yang rada dipaksain keberadaannya di "lantai 2" yang tak berdinding di satu sisi.
Dulu sebelum gempa tampangnya jelek sekali. Dinding luarnya belum dilapis semen halus seperti sekarang ini. Bentuknya masih seperti losmen kelas melati, kamar-kamar berderet di sisi kiri dan tak kenal warna cat sama sekali. Memang sudah menjadi niat kami untuk merenovasi, tetapi tahun-tahun berlalu dan tak kunjung terealisasi.
Hingga akhirnya Allah mengirim tanda untuk mengingatkan, agar niat kami segera dimanifestasikan. 27 Mei 2006, saat matahari baru saja menembus malam. Meskipun agak terguncang hati melihat reruntuhan, saat itu kami tersadar bahwa rumah kami memang sudah perlu perbaikan. Maka dengan segenap kekuatan dan keterbatasan, gotong royong pun kami lakukan.
Setelah 2 bulan si adik dan keluarganya bertenda di jalan, rumah itu pelan-pelan berubah penampakan. Sungguh mengharukan, dua orang teman di India dan Serbia ikut mengulurkan tangan. Terimakasih Ashish Talwar dan Andreja Vradzalic, yang memungkinkan rumah ini menjadi monumen persahabatan.
Jadilah sekarang rumah mungil yang cantik, warnanya merah tanpa metalik. Si adik memang agak nyentrik, meskipun dia gak suka memakai akik. Pernah kubelikan baju batik, maksudku agar penampilannya lebih simpatik.
Anyway, rumah itu malah jadi unik, warnanya takada yang menyamaik.... |
Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu, seekor elang harus membuat keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40. Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkak hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan --- suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.  Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu per satu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali dengan paruh dan cakar baru. Elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi. Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat bermanfaat. Untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama yang mengikat itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan mengenakkan. Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri.
| |